Beberapa waktu yang lalu Indonesia dikejutkan oleh berita tragis tewasnya seorang siswa STPDN. Masyarakat geram karena ini bukanlah korban yang pertama. Korban-korban sebelumnya sudah banyak hanya saja kasusnya hilang terbang bersama waktu. Kali ini ketika pers sudah mulai kritis dan berani, kasus ini bisa dibawa kepermukaan dan masyarakat menjadi jaksa penuntutnya.
Ketika melongok ke dalam tembok sekolah yang selama ini tertutup, orang terbelalak melihat betapa kerasnya seorang calon praja dilatih dan dididik disana. Memang diakui kalau seorang lulusan STPDN dijamin kulaitasnya dan tidak perlu takut harus melalui berbagai proses melamar pekerjaan sana-sini. Dapat dimengerti karena pendidikan dan pelatihan yang mereka harus jalani sangat berat kadang harus dibayar dengan nyawa.
Ini adalah sebuah contoh. Untuk menjadi lulusan berkulaitas seseorang pertama harus berasal dari Sekolah atau Universitas ternama. Untuk menjadi seorang pekerja yang dicari-cari, seseorang harus memiliki berbagai training, pelatihan, pengalaman atau credential lainnya. Dengan ini kemampuannya teruji.
Beberapa tahun yang lalu, seorang bekas teman kuliah pernah menelpon sekedar menanyakan kabar. Dalam percakapan kami selanjutnya ia bertanya apa yang sedang saya lakukan, apakah saya sudah bekerja dan sukses. Well, jika ditanya soal kesuksesan saat itu masih sangat jauh. Sukses dalam pekerjaan, dalam percintaan, dalam keluarga, dalam pelayanan atau dalam pendidikan, semuanya masih meraba-raba. “Cuman sedang sekolah Alkitab, program sertifikat” kata saya.
Dia tertawa tertahan dan berkata “Wah, tidak disangka hanya segitu. Dulu saya pikir kamu akan menjadi orang yang berhasil” Ups, saya tidak tahu apakah ini suatu sindiran, gurauan atau serangan, namun bagi saya kata-katanya adalah cambukan. Dalam hati saya berkata “See, ada orang yang bisa mengendus bahwa masa depan saya seharusnya sukses, dan saya harus mewujudkannya karena demikianlah Firman Tuhan ” (Baca Yer 29:11)
Lain waktu seorang teman lama juga menelpon dan menanyakan kabar. Hmm, sebenarnya bukan menanyakan kabar saya tapi ingin memberi kabar bagaimana ia dipakai Tuhan. Sekolah di Universitas terkenal, pemimpin pujian di gereja besar, dan sederetan prestasi lainnya. Dan mulai membandingkan, “Saya pikir kamu mau dipakai Tuhan. Dulu kamu lebih rajin dan aktif dan saya biasa-biasa saja tapi sekarang …” Ha? Saya pun menjawab “Untuk sekolah setingkat SMA dan setingkat Doktor lama belajarnya beda, saya yakin Tuhan sedang mempersiapkan saya untuk sesuatu yang lebih besar!”
Benar, bertahun-tahun kemudian ketika teman atau kenalan yang lain telah menjadi manajer, pemilik perusahaan, kepala seksi, dosen, dokter, guru,atau ‘orang sukses’, saya masih mengais-ngais mencari secerca harapan untuk menjadi ‘seseorang’. Mulanya kesempatan untuk sekolah di luar negeri buat saya adalah jalan untuk menjadi panutan jika kembali ke Indonesia. Tapi Tuhan berkehendak lain.
Mimpi untuk menjadi seperti ‘one of my friends’ telah lama terbang. Sebaliknya apa yang tidak pernah saya pikirkan itulah yang Tuhan sediakan (baca: 1 Kor 2:9) meskipun harus melewati berbagai macam training yang berat, secara mental, spiritual bahkan fisikal. Semuanya berjalan secara progresif.
Setiap kali masuk ke masa-masa sulit, saya mulai mengencangkan pegangan dan bertahan. Setelah masanya lewat, saya bisa bernapas lega tapi hanya untuk sementara karena ada badai lain yang akan datang, mungkin lebih dahsyat. Mulanya saya harus menghadapi sendirian, tapi kemudian Tuhan memberikan seorang suami yang bisa saling menguatkan dan memberi semangat. Saat ini saya sudah cukup kuat, otot-otot sudah mulai terlatih. Masalah buat saya adalah training atau kursus singkat. Walau tanpa ijazah mereka adalah bagian dari credential saya. Suatu saat, jika bertemu dengan orang yang memiliki masalah serupa saya bisa dengan percaya diri berkata “ya saya mengerti, saya tahu apa yang sedang kamu rasakan”.
Saya mengerti dengan orang yang memiliki masalah keluarga, rumah tangga, pekerjaan dan pelayanan. Saya bisa berempati dengan orang yang hidupnya susah, masa lalu buruk dan penuh pergolakan. Saya tahu rasa khawatir seorang ibu yang memiliki anak dengan masalah perkembangan. Saya tahu apa yang dirasakan dengan orang yang menderita, sakit dan menghadapi ajal. Saya tahu apa perasaan menjadi orang asing, dipandang sebelah mata, dipikir bodoh, didiskriminasi, tanpa teman dan sanak keluarga. Saya pernah merasakan kesepian, putus asa, dan hidup tanpa makna. Saya tahu bagaimana rasanya ditipu, dihobongi, dikhianati, dituduh, digosipkan, diperlakukan tidak adil dan sebagainya…
Saya mengerti, saya tahu, saya merasakan dan meskipun saya tidak bisa memberi jalan keluar yang sempurna namun dapat berkata, “I ‘ve been there”. Demikian juga Yesus yang telah meninggalkan segala kemegahan surga dan mengesampingkan semua haknya sebagai pencipta semesta, mengosongkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba (baca: Filipi 2:5-8). Dalam kemanusiaannya menghadapi segala yang terburuk, memikul kuk, dan menjadi terkutuk (baca Gal 3:13)supaya jika kita yang menderita berseru dan memanggil namaNya akan menerima jawaban :”BE STRONG AND TAKE COURGAE, DO NOT FEAR OR FEEL DISMAYED, I KNOW HOW YOU FELL BECAUSE I’VE BEEN THERE!!”
Saat ini saya berbahagia dan mengucap syukur menghadapi berbagai special training, karena semua kesulitan telah melahirkan ketekunan dan iman yang tahan uji.
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (Yakobus 1:2)
PLEASE DOWNLOAD THIS SONG FROM YOU TUBE AT THE END OF THE PAGE
Be Strong And Take Courage( Bassil Chiasson)Be strong and take courageDo not fear or be dismayedFor the Lord will go before youAnd His life will show the wayBe strong and take courageDo not fear or be dismayedFor the one who lives within youWill be strong in you today.Why don’t you give himAll of your fearsWhy don’t you let HimWipe all of your tearsHe knows He’s been through pain beforeAnd He knows all that you’ve been looking forNothing can take you out of His handNothing can face you that you can’t commandI know that you will always beIn His love in His powerYou will be free.
Tags: Character, Leadership

Leave a Reply