Suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis . Tak seorangpun yang akan mengira bahwa ia seorang perempuan hanya dari penampilan, tampang dan cara bicaranya. Total seluruh keberadaannya persis seperti seorang anak laki-laki: rambut pendek, tubuh berotot, wajah bergurat keras dan nada suara tegas. Dari ujung rambut ke ujung kaki, ia memakai baju dan aksesori milik pria.
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama karena tiga tahun sebelumnya saya pernah bertemu dengannya. Waktu itu ia mempunyai masalah dengan orientasi seksual. Nasib telah membawanya untuk melakukan dan terlibat dalam hubungan homoseksual. Sayang, keberadaanya sebagai seorang TKW yang seluruh komunitasnya adalah wanita menutup jalan keluarnya untuk lari dari masalah ini.
Kali ini masalahnya lebih dari yang kemarin. Ia mengaku terlalu dalam terikat dengan minum minuman keras dan sedang berusaha untuk melepaskannya. Baik homoseksuality maupun alchoholism keduanya dianggap oleh sebagian besar psikolog sebagai problem yang ‘immutable’ (tidak dapat disembuhkan). Namun, secara pribadi saya tidak percaya theori itu buktinya banyak kok orang yang kemudian lepas dan sembuh dari keduanya.
Tanpa tahu banyak tentang masa lalunya, siapapun akan dengan mudah mengira kalau gadis ini telah melalui banyak sekali kekerasan hidup. Tidak seorangpun yang akan sampai pada tahap emosi seperti dia sekarang hanya dikarenakan pengaruh lingkungan yang biasa-biasa. Dengan penasaran saya kemudian meminta ia bercerita tentang masa lalunya dan sekalian meminta izin untuk menulis kisah hidupnya.
Ia bercerita tentang hal yang membuat saya terganga, tidak percaya. Adakah di dunia ini orang yang diperlakukan demikian kejam???
Kisahnya dimulai sejak usia 3 tahun, ketika ia kehilangan kedua orang tua karena bencana alam. Bersama ke-enam saudara-saudarinya mereka kemudian dibagi-bagikan ke sanak saudara. Gadis ini tinggal dengan Om dan Tante yang kemudian menjadi orang tua angkatnya.
Di rumah itu segala bentuk penyiksaan dan penganiayaan diterimanya. Di pukul dengan balok kayu, dilempar dengan batu karang, dilempar ke bawah kolong mobil berjalan, diperkosa, ratusan pukulan dan makian menjadi makanannya sehari-hari. Kehidupan dan kematian baginya hanya dipisahkan oleh satu tirai yang tipis. Suatu hari ia lari dalam keadaan setengah pingsan karena seluruh tubuh penuh luka dan lumuran darah. Ia hampir tidak dikenal oleh orang yang menemukannya. Dan ketika saya bertanya usianya waktu mengalami semua itu ia menjawab : “tujuh!”.
Dianggap sebagai babu, ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bangun jam tiga pagi untuk memasak, mengisi bak mandi besar, membereskan rumah, dan pekerjaan rumah lainnya baru bisa ke sekolah. Dan karena tidak pernah diberi uang ia tidak memiliki pakaian yang pantas atau buku yang bagus. Ia hanya memiliki dua pasang pakaian yang dipakainya secara bergantian. Jika kebetulan pakaiannya dicuci dan tidak sempat kering iapun akan memakainya dalam keadaan basah. Ia biasa mengumpulkan buku dari tempat sampah, mencari halamannya yang kosong dan meng-hekter-nya jadi satu.
Bukan hanya tidak diberi jajan dan sarapan, ia bahkan tidak diberi air minum sebagai bekal ke sekolah. “Kata mereka, air juga kan dimasak dengan minyak!” ceritanya dengan suara tertahan. “Suatu hari karena haus saya terpaksa minum air dari toilet” waktu megenang kisah ini, ia sudah belinangan air mata. Pernah ia dipaksa memakan sisa tepung di dapur, memakan sisa makanan di jalan, atau dimana saja ia bisa temukan makanan untuk mengatasi rasa lapar.
Hebatnya, dalam tekanan dan penderitaan ini semangat belajarnya sangat tinggi. Ia berhasil menyelesaikan Sekolah Menengah. Bekerja sebagai tukang bangunan pun dilakukannya untuk membiayai sekolah. Ia tidak pernah menerima biaya sekolah dari orang tua angkatnya itu. Beberapa tetangga yang kasihan biasanya memberinya pekerjaan kecil sebagai alasan untuk memberinya jajan. Dari uang persenan tetangga sebagai hasil ia ke pasar, bersih-bersih, disuruh ini itu, ia pun bisa membeli seragam, sepatu dan baju. Dan kenangan itu dimulai dari kelas enam SD.
Untung ada kesempatan bagi dia bekerja di luar negeri dan mengumpulkan sedikit uang. Setelah beberapa tahun bekerja ia bertekad untuk melanjutkan sekolah walau dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas. Saat cerita ini diutlis is sedang menggapai cita-citanya yang tertunda untuk kuliah. Semangatnya untuk belajar dan berjuang melawan segala ketidakberuntungan hidupnya sangat menyentuh.
Tags: Inspirational, Memoir



Leave a Reply