Untuk berapa lama saya koma, tidak bisa berdoa, membaca Alkitab atau sekedar mengengang kebaikan Tuhan dan mengucap syukur. Seluruh otot-otot dan persendian terasa lumpuh. Setiap hari uring-uringan dan selalu ingin menangis walau tanpa sebab. Masalah kecil kelihatan besar, masalah besar tidak tertanggungkan. Hari-hari seakan merangkak, matahari lambat berputar sedangkan bulan bersinar kelam.
Mengapa? Apakah ini salah satu bentuk kekalahan? Apakah iblis dan segenap roh jahatnya sedang menang? Tidak! Kali ini saya tidak akan menyalahkan mereka. Saya sedang mengadung anak kedua. Saat itu saya tidak mengerti jika perubahan hormon telah menyebabkan hari-hari terasa kelabu. Tidak ada musik yang mampu menenangkan, teman yang membuat ceria atau makanan yang membangkitkan selera. Satu-satunya sukacita adalah menanti kelahiran bayinya.
Puji Tuhan, moment tersebut tidak berlangsung selamanya. Segera setelah anak saya dilahirkan, sukacita Allah mengalir. Seakan baru mendapatkan hadiah yang terindah, sambil memeluk Mathew anak kami saya terus berbisik “I can’t think something better Lord, I can not think!” Inilah yang terbaik. Tuhan telah mengirimkan malaikatnya yang paling indah untuk menjadi anak kami. Kelahirannya yang ajaib, mudah dan tidak menyusahkan. Wajahnya yang mungil dan baunya yang lembut. Nothing could be better.
Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dan depressif, entah itu diebabkan oleh masalah yang menghimpit atau penyakit yang mendera bahkan suatu ‘keajaiban alam’ seperti mengandung pun dapat menjadi penyebab. Daud pernah mengalaminya. Itulah sebabnya ia menulis Mazmur 23 “Sekalipun aku dalam lembah kekelaman…”. Ada saat dimana Tuhan terasa jauh dan kuasanya tidak berarti. Saya tahu persis apa yang dirasakan oleh mereka.
Ada yang mulai menyalahkan Tuhan kemudian meninggalkan imannya. Ada yang ‘cuti rohani’ tiba-tiba menghilang dari setiap kegiatan gereja bahkan menolak bertemu saudara seiman. Ada yang tetap ke gereja dan aktif dalam seluruh kegiatan tapi merasa kering. Ada yang berpura-pura, menyimpan sakit hati, memendam kepahitan, merasa putus asa. Ada yang menyangkal, lari, dan memakai topeng . Ada menyalahkan orang lain, meyalahkan diri sendiri, mengasihani diri, dan mencari kambing hitam. Bermacam-macam cara orang bereaksi ketika berada dalam lembah kekelaman tersebut.
Sebaliknya, ada orang-orang yang mengambil sikap bertahan . Seakan berada di kapal yang di serang badai yang besar, orang-orang ini mencari pegangan yang cukup kuat dan mencengkramnya kuat-kuat. Tidak akan dilepaskanya. Berjalan di lembah kekelaman terus ditapakinya tanpa ada perasaan takut katanya, “sekalipun aku dalam lembah kekelaman aku tidak akan takut bahaya”. Dalam hatinya ia tahu bahwa setiap badai pasti berlalu, lembah kekelaman ada ujungnya. Imannya memberi kekuatan, dengan yakin ia akan berseru “aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku!” Orang-orang yang seperti ini adalah orang yang terlatih. Otot tangan dan otot imannya telah menjadi kuat dan tahan uji.
Masalah tidak akan selamanya. Jalan ada ujungnya, badai ada akhirnya. Bagi anak-anak Tuhan yang sedang mengalami masalah atau sakit penyakit, Tuhan itu setia, Ia sanggup memulihkan dan menyembuhkan. Hanya saja jangan menyerah. Bertahanlah dan yakinlah.
Tags: Inspirational, Memoir, Personal

Leave a Reply