Nancy Dinar on September 1st, 2007

Bagi setiap orang yang pernah mendaki gunung pengalaman itu berharga dan tak terlupakan. Saat-saat yang melelahkan, tenaga terkuras, tubuh bermandi keringat, seluruh daya dikerahkan hanya untuk satu tujuan: puncak! Jalan yang ditempuh tidak mudah, terjal, berbatu, dan licin. Kulitpun perih terbakar terik matahari dan kadang harus melewati tempat-tempat dimana hewan liar dan buas berada. Bagi yang kurang pengalaman dan persiapan tersesat dalam hutan adalah hal biasa.Ada yang menyumpah-nyumpah untuk tidak akan mendaki lagi: “ini gunung terakhir!” ada yang bermimpi makanan lezat dan kasur empuk di rumah, dan banyak juga yang terlalu terkuras tenaganya untuk berjalan lebih jauh.

Namun apa yang terjadi pada saat puncak itu mulai kelihatan? Sejenak lelah terlupakan, mimpi dikesampingkan, “itulah tujuanku, ia kelihatan begitu gagah dan kokoh!” mereka berguman, “tidak sia-sia seluruh usaha dan pengorbananku” Dan seperti baru saja mendapat tenaga ekstra sepuluh kali lipat mereka mulai berlari, mendaki dan menanjak, ada suatu kegembiraan yang meluap-luap.Sejenak mereka terdiam menikmati keindahan alam dari atas puncak itu. Sebenarnya seluruh keindahan itu telah mereka lalui pada saat jalan menuju kesana. Namun saat itu mereka terlalu lelah dan kadang putus asa, mana bisa menikmatinya.

Berada di puncak membuat segala sesuatu kelihatan berubah. Pohon-pohon yang tadinya besar dan menakutkan kelihatan seperti tanaman hias yang indah. Batu yang terjal dan garang tampak seperti bebatuan penghias taman. Lembah yang panas dengan rumput yang menyayat bagaikan permadani hijau menyejukkan.

Semuanya kelihatan berbeda di puncak.

Hidup yang kita jalani juga hampir sama dengan perjalanan menuju puncak. Setiap tapak yang kita buat adalah setiap menit bagi kehidupan. Jalan yang kita lalui adalah apa yang kita yakini dan percayai. Semak belukar dan pohon-pohon besar yang menakutkan adalah masalah yang kita hadapi. Ada yang kecil tapi menyakitkan ada juga yang besar menakutkan tapi tidak berbahaya. Bukankah batu kerikil mudah membuat kita jatuh kalau tidak awas.Belum cukup? perjalanan hidup kita menjadi incaran binatang liar dan buas.

Dengan segala yang kita lalui bisa dimaklumi kalau hanya beberapa orang saja yang bisa menyadari bahwa hidup itu indah dan pantas dinikmati. Kebanyakan orang terlalu sibuk, takut dan lelah untuk menikmati keindahannya. Mereka terus melihat ke jalan yang tak berujung, puncak yang tidak terbayangkan.

Cobalah cara ini, pada saat jalan terasa sukar dan melelahkan, jangan memandang terlalu jauh. Kesukaran sehari cukuplah untuk sehari.[1] Pandanglah pada langkah yang anda buat sekarang, dan lihatlah keindahan alam sekitar dan kagumi penciptanya. Semak belukar itu melukai kalau anda ijinkan ia melukai. Kerikil membuat tersandung itu kalau anda tidak waspada dan berjaga-jaga. Dan mengenai binatang liar dan buas? Kenali habitat mereka dan hindari tempat itu. Dan kalaupun anda terpaksa harus menghadapinya, pastikan peralatan perang anda cukup memadai.

Seketika perjalanan hidup ini berubah. Bukan suatu paksaan tapi suatu petualangan yang menggairahkan. Sesaat anda bahkan telah melupakan mengenai puncak itu. Berjalan, mendaki, memanjat, menaklukkan jadi pekerjaan yang mengasyikkan. Hingga suatu saat langit terbuka , puncak hidup anda ada di depan mata. Seluruh usaha telah usai, perjalan hidupmu telah berkahir. Anda berada di puncak yang tertinggi sambil melihat semua yang sudah dilewati. Tarik napas kebanggaan yang panjang… nikmati tiupan angin sepoi-sepoi mengingatkan bahwa anda telah begitu dekat dengan Sang Pencipta.

Masih lelahkah? Maih maukah anda mengulangi perjalanan itu? Tidak. Inilah tempat yang paling indah, anda sedang menunggu jemputan menuju ke tempat where you belong.


[1] Mat 6:34

Tags: ,

One Response to “Menuju Puncak”

  1. Ini seperti keadaanku pada saat aku merasa hidupku monoton dan membosankan, karena aku ingin segera sampai di puncak. So aku setuju dengan tulisanmu bahwa kita hendaknya MENIKMATI perjalanan langkah kita yg sekarang, karena setiap hari ada kesukarannya sendiri. Hidup menjadi petualangan yg menggairahkan dengan Yesus dan tanpa kita sadari kita sampai di Puncaknya. Tetaplah berkarya! GBU.

Leave a Reply

Related Posts from the Past: