Bagi setiap orang yang pernah mendaki gunung pengalaman itu berharga dan tak terlupakan. Saat-saat yang melelahkan, tenaga terkuras, tubuh bermandi keringat, seluruh daya dikerahkan hanya untuk satu tujuan: puncak! Jalan yang ditempuh tidak mudah, terjal, berbatu, dan licin. Kulitpun perih terbakar terik matahari dan kadang harus melewati tempat-tempat dimana hewan liar dan buas berada. Bagi yang kurang pengalaman dan persiapan tersesat dalam hutan adalah hal biasa.Ada yang menyumpah-nyumpah untuk tidak akan mendaki lagi: “ini gunung terakhir!” ada yang bermimpi makanan lezat dan kasur empuk di rumah, dan banyak juga yang terlalu terkuras tenaganya untuk berjalan lebih jauh.
Namun apa yang terjadi pada saat puncak itu mulai kelihatan? Sejenak lelah terlupakan, mimpi dikesampingkan, “itulah tujuanku, ia kelihatan begitu gagah dan kokoh!” mereka berguman, “tidak sia-sia seluruh usaha dan pengorbananku” Dan seperti baru saja mendapat tenaga ekstra sepuluh kali lipat mereka mulai berlari, mendaki dan menanjak, ada suatu kegembiraan yang meluap-luap.Sejenak mereka terdiam menikmati keindahan alam dari atas puncak itu. Sebenarnya seluruh keindahan itu telah mereka lalui pada saat jalan menuju kesana. Namun saat itu mereka terlalu lelah dan kadang putus asa, mana bisa menikmatinya.
Berada di puncak membuat segala sesuatu kelihatan berubah. Pohon-pohon yang tadinya besar dan menakutkan kelihatan seperti tanaman hias yang indah. Batu yang terjal dan garang tampak seperti bebatuan penghias taman. Lembah yang panas dengan rumput yang menyayat bagaikan permadani hijau menyejukkan.
Semuanya kelihatan berbeda di puncak.

Entries (RSS)