Gedung-gedung mewah, interior yang wah, ful AC, full karpet, siapapun akan betah. Sayangnya yang boleh masuk hanya orang-orang tertentu. Pastikan orang-orang itu bermobil, pakaian bersih dan rapi, orang-orang berstatus, bisnisman, berduit…
Membangun gedung-gedung mewah tidak mudah. Proses pengumpulan dana menguras tenaga. Yang miskin dan yang kaya ikut berpartisipasi, karena itu untuk kepentingan rohani. Gedung-gedung mewah itu akan menjadi gereja. Disitu akan berkumpul berbagai kalangan untuk membicarakan banyak hal: situasi politik, keadaan sosial, ekonomi negara. Juga dibicarakan tentang hidup yang lebih baik, berkelimpahan, kemakmuran, kesejahteraan, kesuksesan yang semua itu untuk anggotanya.
Di seberang jalan, dibalik gedung-gedung mewah, dibawah jembatan, banyak dijumpai rumah-rumahan. Rumah-rumah itu tidak dirancang untuk tahan terhadap hujan dan panas. Penghuninya sudah biasa untuk punya ketahanan lebih. Orang-orang di tempat itu sering berkumpul dan membicarakan banyak hal: situasi politik, keadaan sosial, ekonomi negara. Juga dibicarakan tentang hidup yang lebih baik, berkelimpahan, kemakmuran, kesejahteraan, kesuksesan yang semua bukan milik mereka.
Suatu waktu di dalam gedung-gedung mewah itu kedatangan Tamu. Tamu yang datang tidak seperti kebanyakan anggotanya, Ia terlalu sederhana dan asing. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Tamu seperti itu. Tempat untuk Dia pun tidak istimewa. Di hampir tidak dikenal, padahal Dia dibilang “Kepala”.
Suatu waktu Tamu itu juga mengunjungi rumah-rumahan di seberang jalan, dibelakang gedung-gedung mewah, di bawah jembatan. Dia disambut baik. Mereka mengira Dia adalah salah satu dari mereka, walau Dia berbeda. Mereka cepat akrab. Orang-orang itu sangat suka mendengarkan Dia, kagum, terpukau, luar biasa!
Dia membawa perbedaan.
Dia membagi keceriaan.
Dia memberi harapan
Sekarang, orang-orang itu tahu bahwa mereka memiliki segalanya.
Tags: Inspirational, Poem

Leave a Reply