It was annoying and regretful to my grandma when her sick older sister didn’t want to leave her village and move with her into the city. How could she refused living a more comfortable life and surrounded by family, to being sick and alone? It was sad when she finally died on her bed without someone with her.
I can’t understand either when it happens to my own grandma who refuses to leave her tiny house and live in our bigger house. Whenever we succeed transporting her to our home, she will whine and beg to go back just for the sake of her plants. How could she refuses the pour out of attention from the family and keep going back to be alone? Maybe, she’s afraid that death will come while she’s not lying on the bed of her own.
Is this happen to the old people? Nope, It does not. It happens to me as a young person too, with a different degree but the same pattern. There are hidden iron bars confined myself, an unseen rope tied my foot and not let me go more that my presumed comfort zone. We’re detained by our own thinking and arrested by the ground that holds our feet for so long. We’ve been successfully created an imaginary dragon with tongue of fire guarding us day and night.
Numerous chances pass by, freedom fly by, but the prince charming never come by.
We’ll never step up our feet into the bridge. The world isn’t a safe place. It’s scary. It’s too big out there and could be dangerous too. Staying wherever we are, in the place that is familiar with the thing that is predictable makes us feel secure.
Why try a new one if the old one has made us satisfied? Why make a change when it comes with the risk of failure? Why let it go and we have to face uncertainty?
We won’t let it go. We are afraid. We are little kids that never want to grow up. More exposure, more challenges, more responsibilities.
Who want more? We have enough. We are unhappy but we are sufficient.
This prison that we’ve been carrying on from the beginning has no end elsewhere. It ends where it begun. It will return to where it belongs. The glamorous of the city far away can captivate our imagination but not our body. No, it never.
Unless we really aware.
Unless we have gut. Break down the walls in our mind. Take out our weapon. Facing the giant. Conquered the angry dragon. Across the bridge of fire. Walk into the painful road. Get the freedom in the new land.
Be the champion and never look back.
Saya masih ingat kunjungan-kunjungan ke rumah nenek saya waktu masih kecil. Saya biasa tidur di kamarnya yang mungil, di tempat tidur yang dialasi seprai berbau harum. Di meja makannya selalu tersedia makan kesukaan saya yang mengundang selera. Nasi yang saya makan dirumah nenek selalu lebih enak dari nasi yang ada di rumah kami.
Penampilan nenek saya juga selalu memukau. Dengan rambut yang terisir rapi dan senantiasa dicat hitam setiap kali mulai memutih. Pakaian model terbaru yang membungkus tubuhnya yang ramping pantas membuat iri para anak muda. Dan tentunya bau semerbak dari parfumnya selalu menarik saya untuk selalu dekat dengan tubuhnya.
Bukan cuman hal-hal fisik itu saja yang membuat saya kagum, tapi sikapnya yang selalu bersukacita dan mengucap syukur, seakan-akan telah terjadi mujizat setiap hari. Dalam bayangan kanak-kanak saya, nenek saya adalah seorang yang kaya dan berkecukupan.
Setelah beranjak remaja (atau mungkin dewasa, saya lupa tepatnya), barulah saya menyadari bahwa nenek saya adalah seorang janda miskin, -ini kalau dibandingkan dengan orang-orang di lingkungannya-.
Mengapa saya tidak pernah menyadari kenyataan itu waktu saya masih kecil?
Mata kanak-kanak saya yang masih polos dan belum dipengaruhi oleh prinsip-prinsip materialisme dan konsumerisme sama sekali tida bisa membedakan ukuran kaya dan miskin dari sudut materi. Bagi saya, orang yang berbahagia adalah orang yang kaya.
Tidak lagi sekarang, setelah lingkungan memaksa saya untuk mengerti tentang prinsip ekonomi. Apalagi setelah lulus dari fakultas ekonomi, seluruh pelajaran yang saya ingat selama empat tahun berkuliah dapat disimpulkan dalam satu kalimat: “Kepuasan manusia tidak ada batasnya”.
Saya membaca majalah dan melihat cantik serta tampannya para model yang sedang memperagakan pakaian bermerk. Tidak heran waktu remaja, saya hanya ingin memakai baju yang bermerk ke sekolah. Rasanya ketinggalan kalau di badan kita tidak menempel merk yang dikenal orang.
Saya menonton TV yang menayangkan sinetron yang para bintangnya tinggal di rumah megah dan mengendarai mobil mewah. Meskipun selalu ada gadis yang miskin dan kurang beruntung namun pada akhirnya seorang pangeran kaya raya akan mempersunting dirinya untuk menjadi permaisuri. Cerita ala Cinderela ini telah begitu merasuk banyak gadis muda yang menghayalkan tentang pangeran imipian yang menikahinya, tinggal disebuah istana megah dan hidup bahagia selama-lamanya.
Saya pergi ke gereja dan juga menerima pengajaran bahwa Tuhan menginginkan semua manusia hidup kaya dan sehat senantiasa. Ditambahkan lagi, bahwa pada perinsipnya semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak berkat yang akan kita terima. Banyak orang yang tiba-
tiba menjadi dermawan dengan harapan pemberian mereka menjadi investasi yang akan memberikan keuntungan melimpah.
Tanpa disadari, bahwa pandangan kanak-kanak saya yang polos tentang arti kebahagiaan itu telah berevolusi. Disinilah awal mula saya memandang nenek saya sebagai janda malang yang tidak memiliki apa-apa. Saya mulai mengigini apa yang juga dikerjar oleh mayoritas manusia dimuka bumi : uang! Ada salah kaprah besar yang mengganti paradigma saya selama ini : materi = kebahagiaan.
Saya merasa tertipu karena ternyata paradigma itu menyesatkan. Uang, harta benda, materi bukanlah sumber kepuasan. Kekayaan bukan alasan untuk menjadi lebih bahagia. Tanyakan itu pada anak-anak yang belum dikotori oleh agama materialisme itu, mereka tidak memiliki apa-apa namun mereka adalah makhluk yang paling bersukacita di muka bumi ini. Mereka melompat gembira untuk sepotong permen dan tertawa senang ketika diberi kesempatan untuk bermain lumpur di luar rumah. Mereka berbahagia hanya oleh hal-hal yang sederhana dan berterima kasih untuk hal yang kita anggap sepele. Saya sering bangga ketika anak saya berkata “Thank you Mummy” setelah dibuatkan segelas susu coklat, yang kemudian akan dilanjutnya dengan “I love you Mummy, so much!”
Perlu waktu berthaun-tahun untuk mengisi kepolosan pandangan kanak-kanak saya dengan paham materialisme dan saat ini perlu waktu
yang panjang pula untuk membersihkan pikiran saya dari apa yang telah saya terima dari dunia tersebut.
Namun, saya bersyukur sebagai wanita biasa, akhirnya sadar sebelum terlambat. Bukan di rumah penantian atau di tempat tidur kematian, hikmat itu datang. Tidak perlu ada penyesalan karena pengertian tentang kehidupan datang menerpa. Saat ini apa yang terpenting bagi saya adalah mengejar sesuatu yang lebih berharga dari harta benda, dialah HIKMAT. Amsal berkata, “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya”
Saya juga bersyukur karena mengenal sumber dari hikmat tersebut dan hidup di dalamnya sejak waktu saya masih sangat muda. “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Takut akan Tuhan ini yang telah menghindarkan saya dari banyak malapetaka yang akan membuat penyesalan seumur hidup. Takut akan Tuhan yang telah menyadarkan saya dari kebodohan-kebodahan yang membelenggu. Hikmat yang timbul darinya akhirnya mengembalikan kita pada kenyataan, pada esensi kehidupan. Hidup sesuai dengan rancangan Ilahi, menurut saya itulah kebahagiaan sejati.
Tags: Arti Hidup
Some of my childhood dreams are flying in an airplane and visit big cities with skyscrapers. I wanted them badly. It doesn’t matter if I have to trade my leisure time for study hard wishing those dreams will come true through good education. I was waiting for the time I might get out from the little town where I grew up.
Some of those childhood dreams are come to realization now. Some moments in my life happened beyond my daydream. I can fly with airplane until it becomes a must and not a pleasure. I can visit big cities and live in a metropolis. I’m out from my sweet little town and be fortunate if I can go back and visit it once a year. Life pretty much an achievement compare to a dream of a little girl.
So much so, it doesn’t instantly making me happier as I would think way back then. Suddenly I really miss what I’ve been away to for so long. I miss the freshness of the air and the smell
of the soil after a rainy day. It was lovely to see a plant near my bedroom window sprouted a flower. I enjoyed when the chilly tree grow after I spread seeds few days before. I love the smell of the tomato fruit when it turns green to red. I even miss some insect that scared me to death of their appearance. And I never thought that I will also miss the neighborhood where everybody know who is doing what.
Now, I dream to have a farm where I can raise my own crops and livestock. After living in the city for so long, I almost never eat something without chemical. How I love to eat a fresh egg from its hen and drink a mango juice that I pick myself from its tree. I also dream to have a pond full of my favorite fish, since eating fish is a fancy treat now.
I question, is life evolving or rotating? The deeper desire inside our heart never fulfilled. We always long for something we don’t have and crave to have something we missed. In that sense, life is not really about achieving our dream. Instead life is about enjoying the process of achieving it. It is about attitude and gratitude.
I’m still in that process, looking forward to future and the blank pages of my days. I wish that I can paint masterpieces on those papers and never be regret about them. Still love to get back what I’ve traded to fulfill my childhood dreams but never be sorry about it. It’s the price I have to pay.
My son is such a beautiful gift to our family. Of course he is getting bigger and don’t want to be called beautiful or baby anymore. It can be understood, he’s just turn 6.
I remember bringing home a tiny little baby, not supposed to exist in this world that day but he made it anyway. His wrinkle and jaundice body, just little bit bigger than a puppy, turn upside down my world in 24 hours. I am not a same person ever.
I also remember the love that seemingly never ended flowing out of my heart. A love that I can’t contained inside. A feeling that need to be given away, and no matter how much it given away it always come back again more.
That was the first time I learn about the un-selfish love, the time God trusted me to be a mother. Such love only heaven can produce. Yes, I couldn’t sleep overnights. My body was swollen out of shape. My routine broke down into pieces. My dream and hope were being reconstructed. But indeed, it was the very first time I felt that no matter how much you love you never lack of it.
I’m proud not only in my arms bestowed a little angel, darling from heaven, but also the responsibility on my shoulders to carry on this grace. The moment I felt complete. Onward I can see the world in different spectacles. And most of all, I can inhale the love of the Father in a new way of understanding. A better understanding.
The years I save as a mother is not quite large in number. He still has his baby voice and his eyes still sparkle innocently. I can see my dreams through those glasses. I used to communicate things beyond thousand of words I spoke. The language of love. Counting my days is never being the same again. It going faster every time, but I couldn’t be more hopeful.
You don’t really expect snow in February as in December when it was about Christmas. It made the sense of Holiday to be holy and jolly. You also don’t expect snow in February as in January, when it makes you feel hopeful and excited.
Snow in February, makes me feel a different person. It brought a deeper feeling and sense about God. Feel His everlasting love. His presence. The eternity of His being. The longevity of His promises.
I’ve grumbled, complained, on how He raised me but finally surrender when it didn’t make sense at all. I can see how I grow and evolve in grace. It’s painful, especially when it comes to the growth spurt, the time God taught so many lessons at a time. It’s delightful, when it ends. I’m able to see myself, the people around me and the world in different perspective.
“The Lord God has given me the tongue of the learned, that I should know how to speak a word in season to him who is weary. He awakens me morning by morning; He awakens my ear to hear as the learned” (Isaiah 50:4).
The snow outside my window, white and pure, still softly pour out to the dirty land. It reminds of the abundant of love and grace given to every each one of us. It makes me feel undeserved yet accepted.

Kasus Dr. Murrray dan Michael Jackson menjadi berita yang paling menyedot perhatian media massa saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan sanga dn g ddokter yang didakwa membunuh manusia paling kreatif dan berbakat sedunia. Dr. Murray disebut telah melanggar etika medis karena memberikan propofol di luar rumah sakit padahal ia adalah dokter ahli jantung dan pada saat memberrikan obat bius itu pun tidak dengan prosedur yang benar.
Mari bayangkan apa yang terjadi hari-hari sebelum kematian Michael Jakcson. Jackson menderita Insomnia kronis dan Dr. Murray mencoba membantunya untuk bisa tidur selama enam minggu berjalan. Jackson merengek-rengek, membujuk, merayu (ingat kisah Delilah dan Samson), agar Dokter yang dipikirnya ahli itu bisa membuatnya terlelap. Dr. Murray, yang punya banyak hutang dan takut kehilangan pekerjaan terpaksa menuruti keinginan bossnya, mencoba memberikan dengan cara artificial apa yang sebenarnya hanya bisa diberikan oleh alam.
Ya, tidur adalah sesuatu yang dikendalikan oleh alam. Alam yang nota bene dikendalikan oleh Pencipta. Oleh karena itu tidur adalah anugerah. Banyak orang yang tidak menyadarinya. Namun jika Anda pernah menderita Insomnia kronis tentu Anda akan lebih menghargai tidur sebagai sesuatu yang supernatural, pemberian dari Tuhan semesta alam. Jika seseorang karena berbagai alasan tidak bisa tidur, apapun yang ia miliki seakan tidak ada artinya. Michael Jakcson dengan segala kekayaannya tidak bisa membeli tidur nyenyak dan akhirnya harus membayar dengan nyawa hanya untuk bisa pulas.
Siapa yang pernah mengalami insomnia pasti tahu bagaimana sengsaranya menanti bulan yang gagah tak mau beranjak seakan enggan menyambut fajar. Bantal, guling yang menjadi panas dan kasur yang tadinya empuk menjadi batu karang tajam menusuk sampai ke tulang paling dalam. Hembusan nafas lembut orang yang tidur di samping menusuk telinga sama seperti alunan lagu metal di malam yang sunyi senyap. Dengkuran halus sang kekasih menjadi palu tajam yang memukul kepala dua kali setiap satu detik. Malam terasa panjang dan jarum jam setiap kali berputar menikam tanpa ampun hati yang gelisah.
Well, mungkin gambaran di atas terlalu berlebihan. Paling tidak begitulah perasaan yang sering saya alami. Memandang suami saya yang bisa ‘terbang’ dalam hitungan ke tiga membuat saya berpikir “Apakah ini yang namanya ‘for better for worse’?”. Begitu mudahnya saya menjadi tidak bisa tidur. Dan hal ini menurun pada anak saya Joel (5 thn), yang memerlukan sedikit waktu sebelum masuk ke dalam dunia mimpinya.
“Mami, kenapa sih kita harus tidur?” tanyanya suatu malam. “Oh, no, jangan membuat mami berpikir untuk itu sayang, nanti mami nggak bisa tidur malam ini. Mmhh, ayo tutup mata….” bisik saya lembut di telinganya, seakan sedang
mencoba meniupkan angin sepoi yang mengadung obat pembuat tidur.
“Mami, apa aku harus menghitung domba?” lanjut tanyanya.”Iya, cobalah hitung domba, sayang…” Kata saya sebelum memberinya ciuman sekali lagi. Angin sepoi pembawa tidur sepertinya tidak memberi efek.
“1,2,3,4,5,6,7,8,…20…60…80…99,100, 1000, 5000, 17.000…”
Dan hening. Paling tidak buat saya yang masih menerawang.
Mari bicara untuk sesuatu yang sedikit serius dan cara penyelesaiannya. Insomnia adalah alarm yang menyatakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam tubuh kita. Stress, cafein, depresi, perubahan waktu, atau masalah kesehatan lain. Simple.
Tidak mudah untuk meminta nasihat bagaimana caranya untuk tidur nyenyak pada orang lain. Jika orang tidak biasa mengalami insomnia, mereka akan menjawab “Tidur? Mudah. Tutup mata. Dan ‘see you in the
morning’”. Jika anda ke dokter, anda akan pulang dengan secarik resep obat. Jika anda ke pendeta, ia akan menumpangkan tangan dan berdoa. Tapi apakah semua itu bisa menyelesaikan masalah?
Dan apa yang simple, seperti menutup mata, tidak menjadi simple lagi.
Ini menurut beberapa sumber yang saya baca untuk melengkapi tulisan ini. Beberapa cara dibawa ini membantu saya, semoga juga bisa membantu anda.
Tips untuk mengatasi Insomnia.
1. Tidur pada waktu yang sama setiap hari, termasuk hari libur. Meskipun tidak bisa tidur tapi ini membantu melatih jam tubuh kita.
2. Lakukan hal yang sama setiap malam sebelum tidur, misalnya mandi dengan air hangat atau membaca artikel ringan.
3. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur. Jauhkan TV, makanan, telepon saat anda sudah di atas tempat tidur.
4. Pastikan tempat tidur anda gelap dan tenang.
5. Jika masih terjaga setelah mencoba untuk tidur selama 30 menit, bangun, pergi ke ruangan lain. Duduk tenang selama 20 menit dan kembalilah untuk tidur. Lakukan ini sebanyak yang anda butuhkan.
6. Hindari kafein (kopi, the, soda, coklat), alkohol, tembakau.
7. Berolahraga secara teratur tapi hindari olahraga beberapa jam sebelum waktu tidur.
8. Hidari stress, dan belajarlah cara yang bijaksana untuk mengelolah stress dalam hidup anda.
9. Cobalah untuk makan makanan ringan sebelum tidur tapi hindari makan yang berat untuk dicerna. Cukup segelas susu hangat atau keju dan crackers.
10. Hindari tidur disiang hari.
11. Jangan berbaring dan memikirkan banyak hal. Ambil waktu khusus untuk berpikir di luar waktu untuk tidur. Misalnya, ambil waktu untu menulis hal-hal yang membuat anda khawatir dan bagaimana cara mengatasinya.
12. Renungkan Mazmur 4:9
“Dengan tentram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman.”
Jika setelah mencoba semua hal di atas anda masih tidak dapat tidur, nikmatilah hal-hal lain yang masih bisa anda nikmati! God bless you.
Tags: Add new tag
Buat para suami, jika istri dan mertua tidak akur siapakah yang harus dibela? Beberapa orang menjawab, istri yang harus dibela. Beberapa lainnya menjawab ibu yang harus dibela. Banyak juga yang berkata bahwa tidak ada yang harus dibela, kedua wanita itu adalah orang yang paling penting dalam kehidupan seorang pria.
Ya, kita berharap, seorang suami tidak pernah ada dalam pilihan sulit tersebut. Namun, kenyataannya dalam budaya apapun seringkali terjadi perselisihan antra istri dan mertua. Ini adalah kenyataan yang harus dihadapi bukan untuk dihindari.
Sebagai seorang istri, saya tidak pernah mendambakan ada orang lain yang ikut dalam bahtera rumah tangga yang telah kami ikrarkan berdua. Perahu pernikahan hanya bisa di tumpangi dua orang, Tiga menjadikannya terlalu sesak. Perahu itu kemungkinan besar akan tenggelam. Saya berharap suami saya menghormati komitmen sehidup semati yang telah diucapkannya, menjaga api cintanya, dan menjadikan saya ratu dalam hatinya.
Namun, sebagai seorang ibu dari dua orang anak-anak laki-laki, saya pun tidak bisa membayangkan jika kelak mereka akan membela orang lain (nb, istri-istri mereka) daripada saya : Ibu mereka. Tentu ini akan mengingatkan bagaimana sakitnya waktu mereggang nyawa untuk menghadirkan mereka ke dunia ini. Saat dimana jika ada pilihan, menyelamatkan nyawa sendiri atau bayi-nya seorang ibu akan berkata “selamatkan bayi saya saja!”. Ini juga akan mengigatkan bagaimana dalam membesarkan mereka saya harus bersusah payah. Ketika mereka sakit, doa seorang ibu seringkali adalah “Tuhan biarlah saya yang sakit dan jangan anak saya!.”
Bagaimana mengatasi masalah yang sangat lumrah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari ini dengan bijaksana. Seorang pria tidak perlu menyakiti satu dari wanita yang telah ditempatkan Tuhan untuk menjadikannya seorang manusia yang utuh.
1. Open Wide Your Eyes
Ketika saya bertanya, “Jika Mami kamu tidak setuju kita menikah, apa kamu akan tetap menikahi saya?” (Mami adalah orang tua tunggal suami saya). Suami saya menjawab, “Tidak”. Ini tentu adalah jawaban yang membuat saya shock. Kemana perginya kekutan cinta? Bukankan pernikahan adalah untuk kita buakan untuk orang tua kita?
Sekarang saya mengerti, bahwa pendirian suami saya adalah yang paling bijaksana bagi seseorang yang sedang mencari calon istri. Open wide your eyes. Buka mata lebar-lebar, demikian kita sering dinasihati orang tua sebelum mencari calon pasangan hidup. Doakan pilihan Anda dan biar Tuhan bekerja. Semua yang datang dari Tuhan akan mendatangkan damai sejahtera, termasuk dari calon mertua.
Saya sangat bangga dengan sikap calon mertua saya, yang dulu sangat ‘picky’ dalam menyeleksi menantu. Banyak yang kecewa karena tidak terpilih dan menganggap itu keterlaluan. Tapi saya rasa mereka salah kaprah, karena selama tujuh tahun pernikahan kami, mertua saya tidak pernah masuk campur urusan rumah tangga kami. Seakan-akan, tugasnya sebagai seorang ibu dalam kehidupan rumah tangga anaknya berakhir pada waktu kami mengikrarkan janji sebagai suami istri. Selanjutnya, beliau menjadi teman yang senantiasa mendukung rumah tangga baru yang kami bina.
2. Honor Your Commitment
Meskipun pengalaman saya cukup ideal, tidak semua orang mengalaminya. Banyak masalah dalam keluarga, termasuk konflik ibu dan istri. Suami yang lemah cenderung tunduk pada wanita yang lebih kuat mengontrolnya. Jika istrinya lebih kuat, jadilah dia ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Dan jika ibunya lebih kuat, jadilah ia ISTI (Ikatan Suami Takut Ibu).
Suami dan istri bukan lagi dua, namun mereka telah menjadi satu daging. Apa yang telah lebur menjadi satu dalam ikatan perjanjian di hadapan Tuhan tidak bisa dicampurkan lagi oleh unsur lainnya (aka keluarga). Dalam hal ini campuran yang telah menyatu tersebut tidaklah murni. Dan semua yang tidak murni mudah membusuk. Konflik antara ibu dan istri yang berkelanjutan akan menjadikan rumah tangga lebih rentan.
Inilah yang menyebabkan banyak rumah tangga retak dan menjadikan perceraian sebagai solusi. Perceraian meninggalkan luka di hati keduanya, belum lagi masalah yang harus dihadapi oleh anak-anak mereka. Pilihan ini adalah loose-loose
solution, dalam arti tidak ada yang diuntungkan kecuali master mind dari seluruh kekacauan di dunia ini : Satan.
Oleh karena itu, para kaum pria hormati komitmen yang telah Anda buat di hadapan Tuhan. Ikatan suami dan istri dibawah ‘covenant’ lebih kuat daripada ikatannya dengan saudara sekandung karena “Darah lebih kental dari susu”.
Hormati komitmen yang telah anda buat dengan sekuat tenaga. Menghormati sesuatu atau seseorang bukan berarti kita merendahkan yang lainnya. Demikian juga suami yang menghormati ikatan perjanjiannya bukan berarti ia merendahkan ikatan tali persaudaraannya. Menghormati justru akan menciptakan keseimbangan. Menghormati bukalah ‘favoritsm’ yang berdasakan pada alasan-alasan yang tidak solid. Menghormati menuntut kerendahan hati. Dan dimana ada kerendahan hati disana ada jalan keluar (Mazmur
25:9).
3. Move Out
Berikutnya, “For the goodness sake, move out from your parents’ house!”
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kejadian 2:24)
Ini berarti sebelum berencana untuk menikah sebaiknya pasangan sudah bisa mandiri sehingga tidak bergantung pada orang tua terutama dalam hal mencukupi kehidupan sehari-hari. Jika baik pria maupun wanita masih bergantung pada orang tua untuk menafkai mereka, jangan berharap konflik rumah tangga akan diselesaikan dengan mudahnya. Konsekuensinya jika ada masalah akan melibatkan banyak orang sehingga membuatnya semakin rumit untuk diselesaikan. Seringkali orang tua yang merasa anaknya belum mandiri, otomatis akan memperlakukannya sebagai anak yang belum dewasa meskipun mereka telah menikah.
4. Grow Up
Sebagai orang tua kebahagiaan anak-anak saya merupakan kebahagiaan saya. Demikian juga kesusahan mereka adalah keusasah
saya. Seorang ibu yang menyaksikan bahwa rumah tangga anaknya harmonis dan bahagia tidak akan merepotkan diri untuk mencampuri urusan mereka. Mengatasi masalah suami istri dengan bijaksana akan membawa kedamaiaan bagi semua pihak.
Seorang pria seharusnya dapat menunjukkan bahwa ia telah dewasa dalam mengambil keputusan. Hindarkan diri untuk bertanya kepada ibu apa warna cat rumah atau jenis tehel apa yang paling baik. Biarkan hal-hal ini diputuskan bersama antara suami istri. Jangan pula meminta ibu anda untuk mengajari istri anda memasak atau membenahi rumah. Ini hanya akan membuat istri anda merasa tidak berharga dan membuat ibu anda merasa berkuasa. Terima istri anda apa adanya dan terima perbedaan-perbedaannya dengan ibu anda.
Jika terjadi perbedaan pendapat antara suami istri yang berakhir dengan pertengkaran, adalah tidak dewasa untuk mengadu kepada orang tua. Demikian juga istri jangan berkata, “Pulangkan saja aku ke rumah orang tuaku”. Biarlah apa yang terjadi dibalik pintu tertutup tetap berada disana. Orang tua yang mengetahui rumah tangga anaknya tidak harmonis akan merasa bersalah dan menuntunnya untuk masuk campur.
Jadi, adalah penting bagi suami dan istri untuk selalu bersikap dewasa dan saling menghargai. Diskusikan ha-hal utama dengan pasangan dan jagalah rahasia rumah tangga baik-baik.
5. Build Up Your Faith
Terkahir, meskipun hubungan suami istri adalah satu daging yang tidak terpisahkan, masih ada pribadi yang lebih penting dari keduanya, Dialah Tuhan.
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama (Matius 22:37-38).
Mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati memudahkan kita untuk mengasihi sesama. Memiliki iman dan bertumbuh di dalamnya membuat cinta dua sejoli ikut bertumbuh. Ketika masalah timbul dalam rumah tangga mereka cenderung mencari Tuhan bukan mencari kesalahan pasangannya.
Orang yang takut akan Tuhan, menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain termasuk pasangan hidupnya. Mendahulukan kehendak Tuhan dalam segala hal mendatangkan sukacita dan damai sejahtera. Sebab Tuhan tidak menghendaki kekacauan melainkan damai sejahtera (1 Korintus 14:33).

Merry Christmas and Happy New Year
This coming year is a special year for those who committed themselves doing wonderful things for the Lord. A year of increasing and a year of fulfillment. Let not your vision be deemed and your hope be weaken by obstacles and life’s challenges. God will help you, TURNING HURT INTO HOPE.
Yesterday my husband and I were listening to a radio program where hosts discussed about ‘Good Looking People Make More Money’. They said, based on a recent research, pretty people get paid 5% higher than their counterparts. Meanwhile, the ‘penalty’ for being ‘ugly’ will cost you 9% less of wage. Means that good looking people gets 14% more money compare to those who aren’t lucky enough to be pretty.
It was not surprising, in the world that becoming more and more materialistic, the extension of Hollywood Kingdom which power ruled over mass media and the arising of plastic surgery industry, beauty becoming the number one commodity now. It reported worth of hundreds of billion dollars a year.
Where did the “inner beauty” holders go now? Do they grow old and lost power? It’s quite discouraging, especially for people whose look fall from beauty standard.
One of the reason is, they argue, beautiful people have more self confidence; the quality that make them hired or get promoted. Fact says, beautiful people treated better from the society which gradually builds their self esteem. Of course, this study result after other factors such experience and education was taken out. Because over all, intelligence and talent still are the premium factors of one’s success.
What the Bible response to this motion?
The Bible clearly stated that people fell from grace and destroyed the Image of God (Rm 3:23). This is the primary reason why so many people have bad self esteem and rely on physical appearance to be accepted. Once a person met Jesus and his/her self image restored, he/she will not looking toward his/her self the same again (Rm 3:24-25).
Initially, all the creation of God is unique and beautiful. Not only we are special delivery on the earth, but we are also specifically customized for a purpose. Finding that purpose and living with it is far more important than having big eyes and pointed nose. Once we are driven by the purpose of God in our lives suddenly the physical appearance not become a factor anymore.
As a normal human being, let say, I also like to see beautiful and handsome people. They caught my eyes, attracted me to know them more or just to be present around them. But many times, I found, those people are not as attractive as they should be. Some handsome men are self consumed and some beautiful women are selfish, thinking that the earth rotating to their own being. Those kinds of people trashed their beauty because they have not enough good personality to hold it tight.
Vice versa, I’ve met unattractive people -well, at least, when it measured by universal standard-, whose personality captured my heart. Their intelligence, talent, interpersonal skill, religious view, are speaking out loud, that they are indeed beautiful people. These kinds of people that I want to be surrounded with forever.
Therefore, for those who feel out casted because of their look, meet Jesus and let Him restored your self image. Second, develop yourself, get more education and experience, know more makes you feel better. Finally, don’t stop growing inside; means determine to be a better person in personality and character as part of your life process.
Have you read Turning Hurt Into Hope? Get it on Metanoia, Gramedia or Other Christian Book Store in Indonesia. Or buy it online, here.

Bab 1 adalah pendahuluan yang memberikan gambaran umum apa yang dihadapi orang terluka kebanyakan berisi kesaksian penulis.
Saat saya membaca dari bab ke bab boleh diistilahkan saya seperti hanyut larut didalamnya, seperti org kehausan saat kita di padang pasir, buku juga demikian demikian saya rasakan , dibab Pertama, misalnya seperti apa yang Kak Nancy alami di tinggalkan org terkasih, tersayang yang banyak memberikan inpirasi dalam kehidupan kita, yaitu Daddy kita…
…pada intinya, isi dari buku tulisan Kak Nancy ini, banyak sekali emosi, permasalahan apa yang pernah saya alami, dan buku ini sangat membantu membagkitkan, menguatkan keimanan saya, di Bab 2, sayapun pernah mengalami penjara emosi, yang sama yang dialami, teman Kak Nancy, yang tertuang di buku… (Rima, Korea)
Salom, dengan bercucuran air mata priska secara pribadi sangat bersukur karena semua yg ada dalam buku ini,itu adalah masa lalu saya,saya diingatkan dari bab ke bab,saya renungkan,setiap bab yg saya baca Yesus membimbing saya secara pribadi dan diberi pengertian secara pribadi,banyak buku yg tlah saya baca,tapi setelah saya mengenal Yesus,bertobat,.. (Priska, Hong Kong)
Buku yang luar biasa! waktu pertama kali buku ini sampai di Korea dan Ps.Nando kasih buku itu ke saya, begitu pulang saya langsung baca buku sampai habis. So excited to read ur book. Sampai sekarangpun masih ada bagian yg saya baca berulang2. Buku yang sangat simple penuh dengan kesaksian dan kisah nyata yg mudah dimengerti namun sangat powerful and somehow I felt that it is same with my experience. Surely, buku yg sangat memberkati hidup saya. Dari buku itu, saya merasa lebih mengenal Kak Nancy~ pengalaman dan kesaksian hidup yg benar2 dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat dan inspirasi buat banyak orang. (Johanes, Korea)
Wow K’nan. Luar biasa, Great Job, buku ini bukan sekedar buku tapi menjadi inspiration 4 me, to be honest bab pertama ini banyak meneguhkan saya . Dgn kehidupan yg saya alami kebanyakan use my emotion, apslagi di hongkong ini. Many times i fail, baik my job,my relationship with boyfriend..buat i realize, kalau sebenernya saya gak merasa puas dgn apa yg ada padaku. N baca bku ini aku ,di berkati banget and meneguhkan aku kembali. Thanks God,and bravo k’nan.@ Amazing Job. (Meyni, Hong Kong)
What a Powerfull Book i ever read K’nancy!!
Humm….Sometimes gw Screaaaaaaam kebawa Emosi juga..hahhaa
Coz..theres so many story there yg Gw ngalamin sendiri!
pengen Banget give for My fam,,but wait penulis pe tandatangan!hikzz…(Wanda, Hong Kong)
Tags: THIH



