Nancy Dinar on December 31st, 2008

Barangkali saya satu-satunya orang yang paling tidak berbahagia di malam pergantian tahun karena dari ubun-ubun sampai telapak kaki hampir tidak ada area yang luput dari munculnya bintik-bintik cacar air. Sepanjang malam saya hanya mondar mandir di dalam ruangan karena baik duduk maupun tidur hanya akan menyebabkan beberapa kutil pecah dan menimbulkan rasa perih. Tidak ada orang tua dan keluarga dan hanya beberapa teman dan tetangga yang menemani.

Kejadian itu tepatnya terjadi 9 tahun lalu, ketika manusia resah dengan isu Y2K: computer crash, global blackout, kiamat, the end of the earth. Tidak terjadi apa-apa, hanya sifat paranoia sebagian expert yang ditularkan kepada masyarakat.

Tidak disangka bahwa waktu itu telah berlalu begitu lama yang bagi seorang anak kelas 5 SD itu adalah seluruh kehidupan mereka.

Kehidupan saya di Korea tidak banyak warna, kecuali 3 tahun di Seminary dan bergaul dengan teman-teman berbagai bangsa selebihnya adalah pengabdian sebagai istri dan ibu rumah tangga. Mengamati wajah yang mengendur di depan cermin, melihat anak-anak bertumbuh dari bayi menjadi seperti dewa-dewa kecil dan mendapati satu dua helai uban di kepala suami adalah fakta yang membuat saya yakin bahwa hari sudah berganti hari.

Sekarang saya punya cerita tentang apa yang terjadi 10 tahun lalu, 20 tahun lalu bahkan 30 tahun lalu! Iya, saya masih mengingat beberapa kejadian 30 tahun lalu saat masih menjadi gadis kecil kurus digendong oleh kedua orang tua saya. Bahkan saya ingat di suatu malam tahun baru, seperti kebiasaan orang sekota menyalakan kembang api saya dan adik pun ikut-ikutan. Tanpa sengaja saya menginjak sebuah kembang api yang masih membara mengakibatkan kaki saya melepuh. Ibu saya memberi odol, yang merupakan tradisi mengobati seseorang yang menderita luka bakar. Namun tidak diperhitungkannya kalau odol bercampur dengan debu dan pasir dapat mengakibatkan infeksi. Dan itulah yang terjadi beberapa hari kemudian. Untunglah ayah saya, seorang calon dokter saat itu campur tangan sehingga menghindarkan saya dari resiko amputasi (dramatized by me).

Tahun ini, sekali lagi masih diberi kesempatan dari Sang Penguasa untuk menikmati kembali kehidupan di bumi ini, entah untuk berapa lama lagi? Dan berapa pergantian tahun lagi?

Berapa lama lagi sebenarnya bukan pertanyaan penting. Yang penting bagi kita adalah mengetahui apakah hidup ini telah berjalan sesuai dengan design Ilahi? Apakah hidup ini sudah efektif? Talenta dan kesempatan yang sudah Ia berikan terpakai secara maksimal? Karena tanpa menjawab pertanyaan ini kemungkinan kita akan terjebak dalam kehidupan yang mediocrity sama dengan majoritas umat manusia di akhir kehidupan mereka. Tak di kenal, tak diingat lagi.

Apa legacy, kontribusi, warisan yang ingin kita tinggalkan? Dengan apa dan berapa lama Anda ingin dikenang?

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati maninggalkan belang, manusia mati meninggalkan….?” Jawabannya ada di hati Anda masing-masing!

Tags: , ,

Nancy Dinar on December 25th, 2008

Natal selalu istimewa. Pada waktu saya kecil, hari-hari menjelang natal identik dengan bau kue kering yang dipanggang, baju baru dan tentu saja pohon natal. Pohon natal kami dihias dengan buah berwarna-warni, pita-pita dan tak lupa lampu berkelap-kelip. Biasanya ditambah dengan kapas yang dipotong kecil-kecil dan ditaruh diujung dahan sebagai pengganti salju.

Saya selalu melihat salju “kapas” di pohon natal yang dipasang di penghujung tahun tersebut, sambil membayangkan salju yang sebenarnya. Pohon natal di kampung halaman kami bisa bertahan beberapa bulan. Biasanya menunggu kue kering yang bertoples-toples habis, pohon yang indah itu kemudian disimpan sambil menunggu natal tahun berikutnya.

Pelayanan telah membawa kami ke negeri yang bersalju dimana saya dapat menyaksikan rupa pohon natal yang sebenarnya. Setelah melewati musim panas dan gugur, biasanya semua jenis pohon yang lain tidak akan bertahan di musim dingin. Seluruh daunnya rontok, dahan-dahan menjadi kering. Konon itulah cara mereka untuk tetap bertahan hidup terhadap perubahan cuaca yang sangat ekstrim. Dan tentu saja jika semua telah berlalu mereka akan hidup kembali bahkan merayakannya dengan mengeluarkan bunga-bunga yang sangat indah.

Tapi ada yang tidak terpengaruh dengan kebiasaan pohon-pohon lainnya. Ia tetap berdiri tegar sepanjang tahun. Daunnya tetap hijau dan sehat. Musim berganti, cuaca berubah, ia tabah menghadapi. Di musim dingin, ketika salju turun, dahan-dahannya tetap kuat menahan bongkahan-bongkahan salju. Dahan-dahan pohon ini cukup lentur meski bongkahan salju itu cukup berat. Padahal ia juga harus menahan angin dingin yang sangat menusuk, yang tidak akan mampu didera oleh makhluk hidup manapun. Ia adalah pohon cemara yang menjadi lambang pohon natal.

Betahun-tahun lewat dan saya selalu menikmati pohon natal alami tersebut. Akhir December dimana cuaca akan bertambah dingin dan membeku, hujan akan berubah menjadi salju putih bersih dan jernih jatuh menutupi bumi. Sebagian akan mampir didahan pohon cemara yang seperti telah menanti-natikan kedatangan mereka. Dahannya yang tertutup salju akan bergoyang-goyang mengikuti irama lagu natal yang terdengar dimana-mana menghibur orang yang sedang menggigil kedinginan. Seakan-akan tersenyum dalam ketegarannya ia memberikan jaminan bahwa kehidupan masih terus berjalan. Pohon-pohon cemara akan tetap tegak berdiri meskipun nasib seringkali membawa mereka berhadapan dengan kematian. Ketika tangan-tangan tak bertanggung jawab memisahkannya dari sumber kehidupan dan membawa mereka ke rumah untuk dijadikan pohon natal sementara yang akhirnya dibuang ke tempat sampah.

Entah yang saudara miliki pohon yang asli atau palsu, belajarlah dari pohon itu. Ketegarannya, keindahannya, keabadiannya. Bukankah Tuhan telah menciptakan kita seperti itu. Sepanjang tahun, kita melawati juga berbagai masa. Masa menangis atau tertawa, masa bergembira atau bersedih, masa menanti atau mendapatkan yang dinanti, masa berlimpah atau kekurangan, masa diterima atau ditolak, masa disakiti atau diobati, dst. Sebagian kita memberikan respon bertahan dan menyembunyikan diri dari masa-masa yang sukar. Jadinya seperti pohon-pohon yang kering selama musim dingin. Sebagian lagi adalah orang-orang yang tabah dan tetap tersenyum kala melewati masa-masa tersebut. Mereka adalah cemara-cemara yang tinggal hijau saat yang lain mengalami kekeringan.

Bagi mereka, musim boleh berganti, masalah berat boleh datang, angin keras boleh menghantam, namun the show must going on. Hari-hari susah tidak akan tinggal selamanya. Pengkhotbah katakan, ada masanya untuk segala sesuatu. Yang sekarang sedih, tidak akan selamanya bersedih, besok kegembiraan pasti menjelang. Yang sekarang kehilangan tidak akan selamanya kehilangan, besok pengganti yang lebih baik pasti akan datang.

Tags: ,

Nancy Dinar on December 20th, 2008

Jika Yesus lahir sekarang bagaimanakah tampangnya? Apakah ia seperti seorang hermit yang berjubah panjang, berjanggut dan membawa tongkat? Atau ia seperti seorang businessman kelas kakap yang mengendarai Mercedes? Atau ia berjins belel, bertato, beranting-anting dan berkelanana dengan Harley Davidson? Atau akankah ia bertampang seorang gelandangan, kotor dan berdaki?

Tergantung! Jawabannya sangat tergantung, di budaya dan masayarakat mana ia dilahirkan. Jika ia lahir di tengah masyarakat yang beragama namun hipokrit tentu ia akan tampil seperti Todd Bentley yang badannya penuh gambar dan ditindik sana sini. Jika ia lahir di tengah masyarakat yang depresi dan dalam tekanan tentu ia akan tampil seperti Obama yang menjanjikan perubahan. Jika ia lahir di tengah masyarakat yang moralnya bejat dan tak berTuhan tentu ia akan tampil seperti seorang hakim dan penguasa yang adil seperti Judge Bao. Dimana pun Ia dilahirkan yang pasti Ia akan tampil beda. Meluruskan nilai yang bengkok, memperbaiki norma yang buruk, memperkenalkan jalan yang baru.

Bagi orang Kristen yang senantiasa berpikir bahwa Yesus adalah orang Yahudi kelas bawah, brewokan dan bersandal jepit, You got Him wrong!. Ia lahir seperti itu karena masayarakat di zamannya menuntut demikian. Ia yang menciptakan dunia dengan penuh kreativitas dan memberikan otak manusia sehingga mampu mencipta teknologi mutakhir bukanlah kakek kakek kuno dan tidak punya style serta tidak bisa mengoperasikan komputer.

Ia hanya memilih demikian. Lahir di kandang domba walau bukan musahil Ia lahir sebagai anak raja. Bertumbuh di keluarga tukang kayu walau dapat saja ia menjadi anak keluarga kaya. Memilih mati di kayu salib, walau bisa saja ia naik ke surga dalam kemuliaan disaksikan para musuh-musuhnya. Itu hanya pilihanNya.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati bahkan mati di kayu salib” (Filipi 2:5-8)

Tags: , ,

Nancy Dinar on December 15th, 2008

Memang tidak mudah mencari pasangan hidup di zaman modern seperti sekarang dimana banyak orang cakep, pintar dan baik hati tinggal di rumah dan memilih bersosialisasi lewat dunia maya. Jika mereka keluar rumah pun biasanya kejebak macet atau lembur di kantor. Sayang sekali. Makanya tidak heran kalau banyak yang berat jodoh, belum ketemu cinta walau usia diambang senja.

“Bagaimana kalau mencoba cari jodoh lewat di internet?” usul saya pada seorang teman.

“Oh tidak Nancy! Itu cara yang tidak baik. Saya percaya Tuhan sudah menyediakan pasangan hidup yang tepat kok.”

Barangkali ini adalah ide yang buruk buat wanita bermartabat seperti teman saya itu. Dan saya pun harus tutup mulut sebelum dikira pendeta sekuler atau liberal.

Memang Tuhan suka bekerja dengan cara yang unik. Saya sendiri bertemu jodoh di Korea dengan satu-satunya laki-laki Indonesia yang saya kenal dekat saat itu. Kami tidak berpacaran lama sebelum memutuskan untuk menikah karena kami banyak persamaannya. Bukan hanya satu bangsa tapi juga satu kampung halaman. Satu iman dan satu visi. Diutus oleh gereja yang sama, satu kelas di Seminary, satu kelas di SMA, bahkan tinggal di satu lingkungan (tetangga) waktu kanak-kanak. Perbedaan mencolok kami hanyalah di postur tubuh karena ia jauh lebih tinggi dan jauh lebih berat.

Meski yakin ini adalah cara Tuhan mempertemukan kami tapi saya tidak percaya bahwa Tuhan selalu memakai cara ini untuk mempertemukan dua insan. Jadi buat yang belum bertemu jodoh padahal usianya sudah kepepet, inilah solusi yang saya pikirkan.

Pernah juga saya google biro-biro jodoh ini, sekedar iseng. Di antaranya ada biro jodoh Kristen yang teguh memegang prinsip Alkitabiah. Mereka hanya menerima anggota yang single dan tidak pernah bercerai. Jika demikian banyak orang Amerika yang single tidak masuk kategori ini karena angka perceraian di Amerika telah mencapai 50%. Demikian juga mereka yang berasal dari kalangan Kristen Protestant, dimana toleransi terhadap perceraian sangat tinggi.

Jadi ini bukan sesuatu yang main-main atau untuk coba-coba. Yang menjadi pertanyaan sebenarnya apakah bertemu jodoh lewat dunia maya ini menjamin kelanggengan pasangan suami istri? Karena tidak mudah mencari orang yang cocok tanpa masa perkenalan yang memadai. Apalagi kalau bicara pernikahan antar bangsa, antara dua pasangan yang sama sekali berbeda latar belakang, bahasa, budaya, kebiasaan, selera, tata cara dan nilai-nilai. Yang bisa menjawab ini tentu mereka yang sudah melewatinya, bukan saya.

Bicara soal etis atau nggak, punya iman atau tidak, kebelet, nggak punya ide, nggak laku, malu-maluin, sebenarya tergantung dari persepsi masing-masing. Memangnya di Surga ada internet connection sehingga Tuhan bisa memantau traffic biro jodoh online ini sambil sesekali campur tangan agar jangan ada yang salah pilih? Inipun jawabannya sama dengan yang mencari jodoh secara offline. Walau Tuhan adalah match maker agung, menyediakan yang terbaik buat kita tapi tetap saja manusia bisa memilih. Tapi jangan berpikir bahwa Tuhan terlalu kuno sehingga nggak ngerti technologi dan memakainya untuk mewujudkan rencana-rencanaNya.

Tags: , ,

Nancy Dinar on December 8th, 2008

Krisis ekonomi ternyata masih akan terus memburuk sebelum akhirnya membaik, demikian pengakuan Obama , sementara masyarakat Amerika telah menganggapnya sebagai dewa penyelamat moneter. Sama seperti kebanyakan negara lainnya, Indonesia juga terimbas krisis moneter ini walau sekarang ’sakit’nya masih dirasakan kaum ‘berduit’ dan ‘bermodal’ namun jika krisis ini berlanjut seluruh lapisan masyarakat pasti akan turut menderita.

Bagaimana krisis ekonomi mempengaruhi gereja?

Ada dampak postif dari krisis ekonomi yang sudah-sudah, yaitu membawa orang menjadi lebih dekat dengan Tuhan apalagi kalau usahawan bangkrut, ujung-ujungnya cari Tuhan juga. Bisa jadi gereja bertambah jemaatnya dengan para petobat baru mencari pengharapan akan masa depan. Oleh karena itu baik itu krisis ekonomi maupun krisis kemanusiaan gereja biasanya menjadi alternatif terbaik.

Dampak negatifnya juga ada. Mungkin terlalu jauh kalau saya berpikir bahwa banyak pendeta dan penginjil yang juga menjadi opportunists dengan pemberitaan jenis properity gospel (Injil Kemakmuran), yang pada dasarnya mengajarkan material dan financial prosperity terutama dalam kehidupan bisnis dan keluarga sebagai hasil ketaatan seseorang akan Frman Tuhan. Pada saat krisis memang jenis pesan seperti ini paling laku. Siapa yang tidak ingin kaya dan diberkati?

Hasilnya dari pelayanan jenis ini adalah orang Kristen materialistis yang memandang agama sebagai bisnis dan Tuhan sebagai sinterklas baik hati yang tugasnya datang membagi-bagikan hadiah. Orang berpikir bahwa Tuhan dapat dimanipulasi dengan perbuatan baik, kesetiaan atau tingkah laku tertentu.

Saat ini perbedaan antara pengajaran yang benar dan yang oppurtunistik sangat tipis. Memang sebagai pendeta enak kalau khotbahnya mendapat respon yang baik. Tapi yang perlu disadari bahwa pendeta adalah hamba Tuhan bukan pelayan restoran yang sedang berusaha menyenangkan customernya.

Untuk itu orang Kristen juga perlu tahu diri bahwa kita hanyalah ciptaan sedangkan Tuhan adalah Tuhan, yang Agung, Besar, Berdaulat. Sikap kepada seseorang yang terhormat dan dimuliakan tentu berbeda dengan sikap kepada pembantu di rumah, namun banyak orang Kristen tidak bisa membedakan antara Tuhan sebagai pencipta dengan Tuhan sebagai pesuruh.

Masalah moneter ini mungkin tidak akan cepat pulih. Bisa jadi pengharapan kebanyakan orang lenyap dan yang dulunya tidak mengenal Tuhan akhirnya berpaling padaNya. Tentu saja ini adalah keputusan yang terbaik, asalkan tetap mengerti bahwa ia adalah Tuhan pengatur segalanya dan sikap yang merendahkan diri dihadapanNya membuat kita lebih bisa menerima keadaan.

Nancy Dinar on December 6th, 2008

Satu Desember 2008 kaki saya kembali menjejakkan kaki di bandara Sukarno Hatta menghadapi beberapa bulan didepan untuk memulai penulisan buku perdana saya. Perbedaan mencolok antara kota Jakarta dan Seoul yang baru saja saya tinggalkan adalah temperature suhunya. Setelah berjuang bertahan dalam suhu membeku di bulan Desember saya harus juga harus berhasil menaklukkan teriknya matahari Jakarta membakar kulit saya yang kepucatan.

Seluruh harta saya di Jakarta adalah Matthew (anak kami), dua koper berisi pakaian dan perlengkapan lainnya serta peralatan rumah tangga darurat yang dipinjamkan saudara, semuanya diangkut menuju ke apartemen tempat tinggal kami sementara. Di sepanjang perjalanan saya berusaha menikmati tanah air, di balik kemacetan lalu lintas dan dimata kosong para pejalan kaki serta tegarnya semangat para pedagang di piggir jalan. Apa oleh-oleh yang bisa saya berikan bagi negara ini setelah meninggalkannya lebih dari delapan tahun?

Visi dan semangat saya yang menggebu-gebu untuk pulang ke Jakarta sebagian besar terserap oleh lesuhnya suasana yang juga menjawab keheranan saya dengan kawan-kawan yang dulunya memiliki semangat yang sama di Korea namun kemudian hilang melebur dengan 300 jt penduduk Indonesia lainnya ketika kembali ke tanah air. Semangat para pahlwan devisa untuk membangun negaranya dan menjadi pengaruh gugur di tengah sengitnya pertempuran mereka melawan keputusasaan dan kehampaan.

Lebih jauh, Krisis ekonomi global saat ini seakan mendorong jatuh ke jurang yang dalam ketika bangsa Indonesia sedang berusaha merangkak naik memperbaiki keadaan eknominya, ketika perlahan petumbuhan ekonomi mulai stabil dan pengharapan kebanyakan orang mulai tumbuh.

Masihkah ada mimpi untuk masa depan yang jauh lebih baik? Dan jika mimpi itu ada, apakah ada kekuatan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan?

Beberapa hari saya harus mengembalikan semangat dan mengaktifkan kembali otak yang seakan ‘blank’, sebagian karena sibuk ngurusin pindah-pindah dan sebagian lagi karena perbedaan atmosfir.

Jadi, kalau hampir dua minggu nggak negepost bisa dimaklumi.

Tags: , ,

Nancy Dinar on November 24th, 2008

Setelah memilih sekolah untuk kedua anaknya Malia dan Sasha, tugas Obama berikutnya adalah memilih gereja untuk keluarganya. Gereja apapun yang akan didatanginya akan berada dibawah spotlight masyarakat karena itu menggambarkan nilai dan value-nya.

Para pendahulunya memiliki sikap yang berbeda terhadap pilihan ini, misalnya Jimmy Carter mengajar Sekolah Minggu di sebuah gereja Baptis sedangkan Ronald Reagen tidak bergereja sama sekali karena tidak ingin merepotkan jemaat gereja dengan protocol kemanan presidennya. Bill dan Hill Clinton menghadiri gereja Methodis dimana Chelsea menjadi salah satu anggota youth choir sementara George W. Bush tidak menjadi anggota gereja local tertentu dan biasanya memilih untuk beribadah di Camp David.

Setelah kontroversi hubungan dengan Jeremiah Wright, pastornya selama 20 tahun, tentu saja Obama akan lebih berhati-hati untuk soal ini apalagi banyak yang menganggap bahwa Obama sebenarnya bukan Kristen. Hal ini terungkap dari wawancaranya dengan Cahtleen Fasani pada tahun 2004. (Lihat full transcript).

Dalam wawancara ini Obama mengaku bahwa ia adalah Kristen, hadir secara regular di gereja dan pernah mengalami ‘jamahan Tuhan’ bahkan mengambil langkah untuk respon terhadap altar call antara tahun 87-88, moment yang kenal sebagai Lahir Baru. Walau tidak memiliki jam doa khusus tapi Obama mengaku memiliki waktu yang disebutnya “on going conversation with God”. Tidak ada masalah dengan kehidupan spiritualnya sampai tiba pada pertanyaan yang krusial seperti pandangannya tentang Yesus, surga dan neraka


FALSANI:

Who’s Jesus to you?

(He laughs nervously)

 

OBAMA:
Right.

Jesus is an historical figure for me, and he’s also a bridge between God and man, in the Christian faith, and one that I think is powerful precisely because he serves as that means of us reaching something higher.

And he’s also a wonderful teacher. I think it’s important for all of us, of whatever faith, to have teachers in the flesh and also teachers in history.

FALSANI:
The conversation stopper, when you say you’re a Christian and leave it at that.

OBAMA:
Where do you move forward with that?

This is something that I’m sure I’d have serious debates with my fellow Christians about. I think that the difficult thing about any religion, including Christianity, is that at some level there is a call to evangelize and prostelytize. There’s the belief, certainly in some quarters, that people haven’t embraced Jesus Christ as their personal savior that they’re going to hell.

FALSANI:
You don’t believe that?

 

OBAMA:
I find it hard to believe that my God would consign four-fifths of the world to hell.

I can’t imagine that my God would allow some little Hindu kid in India who never interacts with the Christian faith to somehow burn for all eternity.

That’s just not part of my religious makeup.

Part of the reason I think it’s always difficult for public figures to talk about this is that the nature of politics is that you want to have everybody like you and project the best possible traits onto you. Oftentimes that’s by being as vague as possible, or appealing to the lowest commong denominators. The more specific and detailed you are on issues as personal and fundamental as your faith, the more potentially dangerous it is.

Dari cuplikan wawancara ini jelas bahwa Obama tidak mengakui Ketuhanan Yesus Kristus yang menjadi ‘core teaching’ dari agama Kristen. Selanjutnya ia juga menyangkali adanya surga dan neraka esensi yang dipercayai baik oleh Kristen dan agama Monotheis lainnya.

Jika demikian apa sebenarnya apa agama Obama? Dapatkan seseorang yang setia hadir dalam gereja, berdoa, dan memegang nilai-nilai Kristen sebagai nilai hidupnya tapi tidak diselamatkan karena tidak mengakui Yesus adalah Tuhan? Atau sebaliknya apakah seseorang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan tapi tidak bergereja menerima keselamatan mereka?

Sebagian menganggap Obama Kristen karena begitulah pengakuannya, namun sebagian lagi menganggap karena Ia tidak mengakui Ketuhanan Yesus, maka ia tidak bisa disebut Kristen. “Steve Waldman points out that if Barack Obama isn’t strictly orthodox in his theology (particularly his soteriology), that makes him just like 70% of his fellow ProtestantsMenurut Steve Waldman editor Beliefnet ini hanya masalah theology semata dan kepercayaan Obama ini sejalan dengan oleh sebagian besar kaum Protestant. Dengan kata lain hanya 30% Kristen yang menganggap bahwa kelahiran baru atau moment dimana seseorang menerima menerima Yesus sebagai juruselamat secara pribadi itu adalah cara untuk menerima keselamatan.

Memang Agama bisa menjadi dilema bagi politikus, menjadi religious berbahaya, tidak religious juga sama bahayanya. Barangkali untuk alasan inilah Obama telah menguragi arti dari keselamatan itu. Sama halnya yang dilakukan Sarah Palin, yang disebut-sebut sebagai politikus garis kanan berlatang belakang aliran Patekosta namun di kampanyenya mengaku sebagai ‘nondenominational’ yang tetunya akan sedikit mengurangi resiko.

Apa mau dikata, bahkan Joel Osteen pendeta gereja terbesar di Amerika pun pernah melakukan hal yang sama pada saat diwawancarai Larry King. Ketika itu ia berkelit dan tidak to the point menjawab pertanyaan apakah Yesus satu-satunya jalan (Lihat wawancaranya di Youtube).

Berhadapan dengan dunia yang pluralistik, banyak yang secara sengaja menyamarkan apa yang mereka percayai hanya dengan tujuan tidak menyakiti kepercayaan lain. Bukan hanya sekarang di abad 21 ini namun sejak dahulu kala pada waktu Paulus menulis surat kepada Timotius iapun sadar dengan tension ini sehingga berakta “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memliharankan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Tim 1:12)

Tags: , ,

Nancy Dinar on November 21st, 2008

Pada saat saya membaca RUU Pornografi pertama kali dan juga membaca komen-komen di blogsphere yang ada di hati saya adalah rasa pesimis dan ragu, bukan pada kekuatan hukum itu tapi pada mereka yang akan menjalankannya. Barangkali ini adalah bentuk rasa putus asa yang saya rasakan bersama dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya yang menyaksikan bagaimana ‘hukum’ di Indonesia sering disalahgunakan.

Namun, setelah merenungkan sejenak, sebagai pelayan Tuhan saya sadar bahwa tidak baik mengambil sikap lemah dalam menyikapi hal-hal yang berbau pornografi. Tadi malam saya membaca, seseorang menulis bahwa pengguna Internet di Indonesia mengundu 40% situs pornografi. Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah membaca, bahwa ***** (kata kotor) adalah kata yang paling tinggi di cari di search engine Indonesia. Ini semua membuat saya sadar bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sedang menuju pada kerusakan akhlak yang lebih parah dari negara lain yang nota bene lebih bebas.

Saya juga membaca komen dari seseorang yang berkata “siapa sih pengguna internet yang nggak pernah melihat situs porno ?” atau dengan kata lain “Everybody is doing that”. Ini pendapat yang salah, yang benar adalah “Not everybody is doing that!”. Pendapat ini membuat saya harus turun gunung. Saya merasa terlalu subjektif dalam menilai karena posisi saya sebagai seorang pendeta dan ibu rumah tangga yang senantiasa tinggal di rumah, jauh dari hingar bingar dunia malam, kelap kelip lampu café dan hentakkan musik dikotik. Pula selama belasan tahun menggunakan internet saya belum pernah secara sengaja atau tidak sengaja nyasar ke situs yang demikian. Bagi saya itu adalah area yang invisible dan non-existence di internet. Tapi bisa saja sikap ini menjadi sikap yang sombong dan mengarah kearah kejatuhan.

“Sebab itu siapa yang menyangka, nahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Kor 10:12)

Barangkali pendapat dan pengertian saya mengenai pornografi adalah biased dan naïve, karena jauhnya saya berdiri.

Pornografi bisa didefinisikan sebagai “seluruh materi yang bisa membangkitkan nafsu seks” sangat berbahaya karena bisa membuat orang kecanduan serta merusak baik individu, keluarga maupun masyarakat. Pornografi juga merupakan bentuk pelanggaran dan pemberontakan manusia pada nature Tuhan yang kudus. Keluarga dan gereja harus mengambil peran yang paling besar untuk menghambat penetrasi pornografi dalam masyarakat. Dan saya merasa punya tugas dan tanggung jawab untuk memberi ketegasan pada setiap pembaca agar :

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu. Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:14-16)

Tags: ,

Nancy Dinar on November 19th, 2008

Di posting in saya memuat respon Sri Adrianti Muin ttg tulisan saya sebelumnya “Efektifkan Undang-undang Pornografi itu?”. Anti, nama panggilannya adalah sahabat dekat saya waktu kuliah. Makan, tidur bahkan mandi bareng, dekaat sekali deh. Dia salah satu teman dimana saya bisa curhat apa saja, tentang pelajaran, perasaan, pacar, masa depan, agama, dll. Beda dengan saya yang adalah staying home mom, Anti adalah PhD candidate di Bidang ekonomi.

Jika anda tertarik untuk memberikan pendapat … Just leave a comment, I really appreciate it.

Anti:

“Sebenarnya hukum agama sudah mengatur apa yang boleh atau ga boleh dilakukan sama umatNya.Tp negara kita kan bukan menghukum seseorang berdasarkan hukum agamanya? Kembali ke batasan pornografi (atau pornoaksi?). Apa seni tari klasik jawa, atau tari bali bikin libido orang naik? rasanya mustahil. Tapi coba tonton goyangan inul, atau dewi persik? terasa bedanya kan? Nah jelaslah kepada siapa undang2 itu ditujukan.Belum lagi pengaruh internet pada anak2. Gimana caranya mengontrol anak2 dalam berselancar ke dunia maya kalo ga ada pemblokiran situs2 porno. Anak kita mungkin masih bisa kita kontrol, tapi berapa anak2 lain yang tidak bisa? jadi jangan parno terhadap uu porno. Diliat dari niat baiknya dulu n kalo ada yang perlu direvisi, why not? Ok sobat, love with u.”

 

Nancy:

Menurut saya UU Pornografi itu baik dan efektif buat mereka yang sudah dewasa dan memang kepengen di atur. Tapi buat mereka yang tidak bertumbuh dewasa sehingga masih anak-anak secara mental dan spiritual (usianya tua tapi mentalnya masih sama seperti anak saya yang masih baby itu yang tidak tahu membedakan bahaya dan tidak) atau buat mereka yang merasa kebebasan mereka berekspresi dan belajar dapat terhalang, buat kedua kelompok ini UUP malah bisa menjadi batu sandungan.

Di Indonesia, walau ada UU Pornografi tapi itu tidak akan memberhentikan orang-orang yang memang akhlaknya rusak dan mencari-cari barang ‘haram’ itu. Tidak ada hukuman yang bisa membuat mereka berhenti. Malahan ini akan menjadi kerjaan ekstra buat pemeritah dan mengabaikan masalah-masalah urgent lainnya seperti perbaikan ekonomi, pendidikan, keamanan dan politik.

Dibalik UU ini memang ada niat baiknya, tapi bagaimana jika ini mengakibatkan perpecahan dan perselisihan? sedangkan ada cara lain yang lebih baik dan efektif untuk dijalani?

UU Pornografi itu akan efektif jika di dukung oleh factor-faktor lainnya, ada empat factor yang saya usulkan terinsipirasi dari cara mendidik anak. Salah satunya dengan memperkuat ajaran agama dan norma positif di dalam keluarga.

Saya setuju bahwa kita harus menolong generasi muda dari bahaya kerusakan moral. Benar bahwa kita bisa mendidik anak sendiri tapi bagaimana dengan anak-anak yang lain? Taruhlah sebagai orang tua kita berhasil mendidik anak jadi baik-baik, tapi bagaimana dengan teman-temannya? Untuk itu saya rasa perlu pembinaan akhlak dan agama yang dimulai dari dalam keluarga bukan pemerintah.

Bicara mengenai keluarga, di era teknologi dan globalisasi seperti sekarang kami sebisa mungkin melindungi anak-anak kami mumpung mereka masih kecil, masih murni dan belum tercemar. Sebenarnya saya lebih parno dan protektif bagi anak-anak kami daripada mereka yang mendukung UU Pornografi. Kami bahkan berniat untuk meng-homeschool mereka. Tugas kami sebagai orang tua adalah membekali mereka dengan ajaran agama, kasih sayang dan contoh moral yang akan menjadi landasan bagi mereka kelak.

Kami juga sangat cautious dengan apa yang mereka lihat dan tonton di TV dan komputer. Jarang kami menonton acara orang dewasa jika ada anak-anak (kecuali berita). Untuk acara TV Kami selalu memperhatikan age appropriate-nya. Prinsip ini juga berlaku untuk game, maianan, buku (kecuali bacaan yang bersifat ilmu pengetahuan karena saya tidak mau membatasi minatnya terhadap art and science). Si Joel anak kami, sampai saat ini tidak berani menyalakan komputer dan TV tanpa seizin kami.

Banyak anak-anak lain seusia dia yang saat ini tanpa control bermain game dan berselancar di internet. Barangkali karena orang tua mereka sibuk dan tidak cukup waktu untuk mendampingi anak. Tapi sebenarnya ini pun bukan alasan karena sekarang banyak software parenting yang memungkinkan orang tua menyeleksi program untuk anak mereka. Orang tua harus secara jelas dan konsisten menaruh batasan-batasan ini sedari anak-anak mereka kecil. Jika lalai mereka akan menjadi semakin sulit pada saat usia sekolah dan mulai terpengaruh teman-teman.

Bagi saya secara pribadi UU Pornografi welcome, karena saya memang ingin di atur dan dikontrol mana tahu khilaf (^_^) Tapi bagaimana dengan mereka yang menganggap bahwa UUP itu mengungkung kebebasan mereka berekspresi dan berkreasi?

Jean Jacques Roseau pernah berkata “aku tidak setuju dengan apa yang kamu katakan, tapi akan membela sampai mati hakmu untuk mengatakannya”.

Saya sih nggak mau mendukung apalagi membela sampai mati hak mereka yang ingin Pornografi dan Pornoaksi dilegalkan, tapi saya menghargai spirit of democracy, menghargai perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan hidup. Karena hanya dengan cara inilah kita bisa membawa bangsa kita maju ke level yang lebih tinggi.

Untuk selanjutnya mengenai penerapan, isi dan definisi Pornografi/Pornoaksi, mengenai Inul dan Dewi Persik (terus terang saya nggak pernah lihat goyangan mereka :) ), jadi saya minta pendapat dari pembaca yang lain deh…!

============================

BACA ISI RANCANGAN UU PORNOGRAFI

 

Read the rest of this entry »

Tags: , , , , ,

Nancy Dinar on November 13th, 2008

Dulu pernah seseorang menegur saya karena memakai rok dan mempertontonkan betis saya yang menurutnya bisa membangkitkan gairah erotis J. Jika terjadi sekarang barangkali saya bisa terjerat UU Pornogafi karena telah mengusik libido seseorang. L

Padahal di negara-negara lain yang saya kunjungi pakaian bukanlah ‘fear factor’ baik bagi pemakai maupun penontonnya. Demikian juga entity lain yang sudah sangat jelas tergolong cabul : majalah, acara TV, video, koran, iklan, billboard dan sejenisnya yang dengan bebas bisa ditemukan di mana saja. Di Rental Video Korea sebelum mencapai rak film anak saya harus melewati deretan rak film video blue. Di kaki lima Hong Kong, majalah sekelas Playboy di jual seperti kerupuk.

Apakah kemaksiatan negara-negara ini lebih tinggi dari Indonesia? Apakah dengan memberi hukuman terhadap pornografi akan menutup pintu bagi percabulan?

Bagi saya, Undang – undang pornografi sama dengan berkatan “Jangan” kepada anak saya yang berusia 1,5 tahun. Saat ini ia melakukan apa aja yang ‘tidak’ dilakukan oleh orang dewasa yang waras. Memanjat TV, lemari, meja dan apa saja yang bisa dipanjat. Membongkar apa saja yang rapih ditata. Berusaha menyalakan kompor walau bukan untuk memasak, mencuci tangan dan wajahnya mungilnya di closet, mengunyah sliper kamar mandi mengiranya permen karet. Dan setiap kali kami berkata “jangan”, ia semakin penasaran dan semangat melakukannya. Hukuman tidak membuatnya kapok bahkan dianggapnya sebagai hiburan.

Ia sering mambuat kami panik. Misalnya ketika kami harus melarikannya ke rumah sakit ketika kepalanya bocor dan bersimbah darah atau pada waktu kami menjadi tontonan umum karena kepalanya terjepit jendela mobil. Banyak kejadian yang membuat jantung saya hampir copot dan sendi-sendi hampir lepas dari engselnya.

Jadi, apa yang harus kami lakukan sebagai orang tua yang mengasihi anaknya yang juga ingin melindunginya, membesarkannya tanpa cacat sekaligus mencegah agar rumah kami tidak kebakaran?

Pertama,
memakai insting ‘parnografi’ kami sebagai orang tua dan menjadikan rumah kami sedapat mungkin ‘baby proof’. Menempeli setiap sudut yang berbahaya, menyingkirkan semua perabotan yang tidak perlu, menyegel laci, drawer, kitchen set dengan pengaman khusus bayi (yang sebenarnya percuma karena segera ia tahu bagaimana membukanya) dan terakhir melakukan pengawasan melekat. Ini berarti tidak membiarkan ia lepas dari pandangan lebih dari lima detik.

Demikian juga untuk melindungi masayarakat dari pengaruh pornografi, cara yang paling efektif membuat negara ‘baby proof’, yang bersifat melindungi tapi bukan dengan tujuan memberi hukuman. Menurut saya, inilah fungsi dari agama, nilai-nilai tradisional keluarga dan norma-norma postif masyarakat.

Kedua,
memberikan kebebasan kepada anak kami mengeksplore apa yang ada disekitarnya dan menganggap itu sebagai proses belajarnya. Mengeluarkan isi kitchen set, mengacak-acak lemari pakaiannya, meremas-remas makanan sebelum dimakannya, menumpahkan isi gelas minumannya dan apa saja yang ingin dilakukan selama itu tidak membahayakannya. Ajaibnya, setelah mengulangnya beberapa kali ia akhirnya bosan dan meninggalkan aktivitas yang menguras tenaga ibu itu. Memang jadinya capek membereskan semua kotoran tersebut, tapi ada juga manfaatnya bagi seorang ibu seperti saya untuk cepat menurunkan badan.

Dari pada mengeluarkan UU yang akan membuat masyarakat penasaran dan semakin semangat mencoba-coba yang akhirnya menjadikan penjara sesak dengan para eksplorer yang kepengen tahu ini, lebih baik berikan mereka kebebasan untuk belajar dari pengalaman. Belajar bertanggung jawab dan menerima konsukuensi dari pilihan-pilihan mereka. Menetukan apa yang bagi mereka benar dan melakukannya berdasarkan dorongan hati nurani. Asalkan diberi pagar-pagar yang semestinya, bebaskan masyarakat untuk membedakan terang dari gelap dan melihat kebenaran dari kedurjanaan.

Ketiga,
untuk menghindari leher tegang dan berteriak “no” setiap lima detik saya sering mengalihkan perhatian anak untuk sesuatu yang lepih positif misalnya bermain bersama, membaca buku, menonton acara anak atau membawanya bermain ke tempat bermain anak sebagai sarana ia menyalurkannya energinya.

Jika kita setuju dengan pendapat Sigmund Freud, berarti manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh libido seksualnya yang harus disalurkan baik dalam bentuk negatif maupun positif. Oleh karena itu untuk mengalihkan energi meluap-luap masayarakat, pemerintah harus menyediakan kompensasi yang positif dan edukatif. Misalnya sediakan tayangan yang bermutu dan informatif dibanding dengan sinetron mistik menyesatkan. Bangun pusat kebudayaan, perpustakan, kebugaran, serta tempat sosialisasi lainnya yang aman dan nyaman. Ini tetunya bisa tercapai jika perekonomian negara telah mapan.

Keempat,
apapun yang kami lakukan sebagian besar akan ditiru oleh anak kami, oleh karena itu tidak ada cara yang lebih efektif untuk mengajar dan mendidik seorang anak selain dari memberikan contoh yang tepat.

Otak dirancang untuk belajar dengan meniru (Tony Buzan). Untuk menghasilkan masyarakat yang bersih, harus dimulai dari tempat tinggi, dari pemerintah dan dari aparat hukum lainnya. Mereka yang harus menjadi contoh moral. Jika pejabat punya istri simpanan dimana-mana mengapa berharap rakyat tidak melakukannya? Jika penegak hukum rajin mengunjungi rumah pelancuran mengapa rakyat yang melakukan hal yang sama harus dihukum?

Jika demikian apakah UU Pornografi itu diperlukan?

Tags: , , , , , ,