Dengan apakah aku bisa membuktikan keberadaan Tuhan? Apakah dengan Ilmu Pengetahuan, dengan pengalaman pribadi, dengan rasio atau bukti-bukti? Aku tidak memiliki sedikit pun dari yang dimiliki oleh jutaan orang percaya yang saat ini membaktikan hidup mereka untukNya. Aku hanyalah bagian kecil dari gerakan besar yang ada di muka bumi ini. Aku hanya kebetulan mengalami kemelut, pengalaman pahit, doa yang tertunda, tapi siapa yang tidak mengalaminya?

Jika timbul pertanyaan yang mempertanyakan kedaulatan Tuhan, keadilanNya, apakah aku cukup memiliki bukti dan pengetahuan untuk itu? Bukankah aku hanyalah satu dari orang kebanyakan, tidak lebih dari yang rata-rata. Disisi lain, aku juga hanya penerima hadiah yang tidak pantas mempertanyakan pemberinya berapa nilai hadiah tersebut.

Tanpa anugerah aku pun tidak akan pernah sampai pada tahap seperti ini. Siapa manusia dengan kepandaiannya sendiri dapat mengerti apa yang telah Tuhan lakukan dan dari situ timbul iman percaya? Bukankah iman sendiri adalah anugerah?

Betapa tidak pantas ketika aku mulai menuntut Penguasa untuk melakukan apa yang kuinginkan. Betapa kecil dan terbatasnya pikiranku jika mempertanyakan keadilanNya. Hidupku sendiri seperti rumput dipadang , sebentar tumbuh, kering, kemudian terbang ditiup angin. Singkat dan pasti akan berakhir.

Ia memberi dan Ia mengambil. Semua yang kupunya datang daripadaNya. Aku datang telanjang ke dunia ini dan akan meninggalkannya dalam keadaan yang sama. Dari tidak ada aku menjadi ada, untuk mengalami kasih juga kegetiran. Ah, betapa sejujurnya akupun ingin pergi dan meninggalkan tubuh ini. Bagianku telah aku lakukan walau tidak sempurna. Dan sekarang adalah bagianNya.

Tidak ada yang dapat menghindar dari akibat dosa yang telah menghancurkan bumi ciptaan ini. Mengapa harus ada kelahiran? Mengapa tersenyum untuk satu lagi jiwa yang lahir untuk merana? Bukankan kita harus menangis karena telah menarik satu lagi makhluk surga dari tempatnya yang indah untuk hidup bersama kita di bumi fana ini?

Sesungguhnya seorang bayi dilahirkan untuk menderita demikian seterusnya hingga ia dipanggil pencipta. Itulah sebabnya, hal pertama dilakukan seorang bayi adalah menangis. Menangis karena tanpa kehendaknya sendiri dilahirkan. Menangisi hari-hari yang harus ia lewati sebelum menjadi tua, sakit, dan kembali ke asalnya. Apa yang bisa dibanggakan manusia dari hidupnya?

Maafkan aku, anak-anakku. Walaupun kehadiranmu adalah kehendak Penguasa tapi akulah yang dipercayakan membawa kalian pada kefanaan ini. Dengan sekuat tenaga aku akan mengasihi kalian tapi aku tak dapat berjanji untuk bisa melindungi kalian dari penderitaan dunia ini. Walau aku berharap dengan kasihku aku dapat mengurangi beban yang harus kalian pikul.

Jika dewasa nanti semoga kalian lebih bisa mengerti apa arti hidup yang singkat ini. Mengapa kalian harus hadir. Melihatnya sebagai satu anugerah dan bukan hukuman.

Comments No Comments »

Walau bumi terus berputar matahari terus bersinar, bulan dan bintang tidak kehilangan gemerlapnya aku tak mengerti ‘mengapa?’ . Walau roda kehidupan terus bergulir, business tetap berjalan, pasar modal terus dibuka, pekerja menerima upahnya dengan sukacita, aku bertanya ‘mengapa?’.

Walau bahu diusahakan bidang, kepala tegak dan bibir senyum; walau aku masih berdiri di mimbar untuk bersaksi dan berkhotbah; walau aku melihat wajah-wajah yang basah dengan air mata mendengar perbuatan-perbuatanNya; walau aku terus menerus menguatkan mereka yang lemah dan dalam kemelut supaya bertahan dan menang; walau aku terus berdoa untuk umatNya dan melihat doa itu dijawab meskipun mustahil karena memang mujizat masih terjadi; dan masih ada beribu ‘WALAU’ lainnya menandakan kehidupan di dunia masih berjalan seperti biasa.

Jari-jariku kapalan memetikkan gitar dan memencet tuts piano menyanyikan lagu mengatasi derita. Aku mengira dengan lagu dan penyembahan aku bisa lebih efektif mengungkapkan isi hati kepadaNya. Mataku yang bengkak tidak berhenti menelusuri Buku Penguasa mencari kekuatan, jawaban atau kemiripan cerita.

Entah apa yang dipikiran Penguasa ketika ia mempercayakan beban yang semakin lama semakin berat ini. Apakah aku kuat sekuat raksasa meskipun bodynya tidak lebih besar dari ukuran rata- rata. Atau karena aku perlu latihan khusus agar dengan ukuran ini otot-ototku bisa seperkasa Superwoman. Atau karena persediaan air mataku harus dikuras habis agar kolam penampungannya dapat dicuci bersih dan kalau perlu direnovasi agar bisa menampung lebih banyak air lagi. Mungkin juga aku harus dilatih untuk berdoa dan mengerang dalam sakit yang luar biasa agar bisa mengerti apa ’sakit’ yang sebenarnya.

Di mata Penguasa tidak ada hitung-hitungan ala penduduk bumi. Semua ada dalam dimensi kekekalan dan rencana global kerajaan. Meski beribu pertanyaan tapi tidak semua perlu jawaban dan tidak semua akan terjawab. Betapa kecilnya manusia dibanding dengan Penguasa yang memiliki titel “Berdaulat”. Betapa terbatasnya pikiran ciptaan ini sehingga tidak mungkin memahami apa yang dipikirkan Penciptanya.

Walau ada harapan agar Penguasa mengintervensi dan memutarbalikkan hukum alam, tak ada yang sanggup memaksaNya. Tak juga makhluk kecil penerima kasih anugerah yang dipungut dari yang terbuang. Dengan apakah ia akan menuntut Penguasa, apakah karena ketidakadilan di bumi ini yang sangat nyata, atau karena sikapNya yang seolah-olah tidak perduli sehingga kejahatan dan kehancuran ada dimana-mana? Sekali lagi hitung-hitungan ala penduduk bumi tidak berlaku bagiNya.

Meskipun isi hatinya terhadap penduduk bumi telah tertulis di dalam Buku-Nya, yang dipercayai cukup dan menyeluruh, tetap saja ada yang tinggal misteri karena disitupun tidak ada jawabannya. Tak seorangpun dapat bertanya mengapa ‘ia tidak mengerti’ karena jawabannya hanya ada di Buku Rahasia Penguasa.

Jika aku menghitung detik yang berlalu berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu demikian seterusnya, sekali lagi Penguasa tidak memakai cara hitung-hitungan ala Penduduk bumi ini. Jadi aku hapuskan saja prinsip aritmetika ini yang telah belasan tahun aku pelajari di sekolah. Semua tidak berlaku untuk memahamiNya. Alam ini fana dan meyesatkan, tidak bisa dipakai sebagai acuan atau ukuran. Bisa tertipu karenanya.

Sia sia semua usaha untuk mengerti Penguasa dengan alam yang diciptakanNya tapi tidak ditinggaliNya. Menaruh ciptaanNya dalam suatu system yang dinamakan ‘hukum alam’, tapi Ia sendiri tidak didalamnya. Tidak mengertilah dan bertanya-tanyalah, karena makhluk ciptaan kebingungan dengan cara kerja Penguasa yang ‘misterius’, kata yang khusus diciptakan untuk melukiskan betapa terbatasnya isi kepala manusia itu. Gagallah usaha manusia untuk memahami Rahasia Sang Penguasa.

Comments 5 Comments »

Coba bandingkan kehidupan Anda sekarang dengan lima tahun yang lalu:

Jika air matamu masih tercurah untuk masalah yang itu-itu juga tanpa ada penyelesaian, berarti Anda perlu untuk : ASK FOR MORE!

Jika Anda masih bergulat dengan tabiat buruk yang sama dan belum bisa mengendalikannya, ini tandanya Anda perlu : ASK FOR MORE!

Jika pekerjaan dan pendapatan yang Anda punya tidak mengalami kemajuan, tidak ragu lagi bahwa Anda perlu : ASK FOR MORE!

Jika Anda masih memiliki pelayanan yang sama tanpa menunjukkan buah-buah pelayanan, nyatalah Anda harus : ASK FOR MORE!

Jika pacarmu masih yang sama tanpa ada kata serius untuk menikah, jangan malu untuk : ASK FOR MORE! (LOL)

Jika kehidupanmu terasa membosankan, potensimu tidak berkembang, panggilan hidupmu tidak jelas, jangan tunda-tunda lagi untuk : ASK FOR MORE!

Jika ada mimpi yang belum terwujud, cita-cita yang kandas atau visi yang mulai pudar itu bangkitlah dan ASK FOR MORE !

Jika secara keseluruhan Anda tidak bahagia dengan hidup ini jangan tunggu lagi untuk : ASK FOR MORE!

Alasan mengapa engkau tidak mendapatkan adalah karena tidak meminta. Tuhan ingin agar anak-anaknya meminta supaya mereka bersukacita (Yoh 16:24).

Dan contoh yang Tuhan berikan untuk meminta kepadanya terdapat di Lukas 11:5-8.

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.

Seorang yang mendatangi rumah sahabanya untuk meminta roti. Karena sifatnya yang tidak malu ini, sahabatnya memberikan apa yang mintanya walaupun sebenarnya ia merasa terganggu. Sifat yang tidak tahu malu ini dalam NIV disebut ‘boldness’ atau keberanian.

Inilah tandanya jika permintaanmu jatuh pada kategori ini: jika orang-orang disekitarmu menganggap itu lucu, mustahil atau ‘malu-maluin’ . Atau jika Anda dicap sebagai tukang mimpi yang tidak tahu diri dan mengada-ada. Jika ini yang Anda alami maka itu juga yang Tuhan inginkan.

Tuhan ingin kita meminta sesuatu yang berani dan tanpa malu kepadaNya. Permintaan ini yang akan memberikan signifikasi status kita sebagai anak-anak Tuhan. Permintaan yang biasa-biasa untuk orang biasa tapi permintaan yang luar biasa untuk orang yang luar biasa.

Mintalah sesuatu yang di luar batasan-batasan kemampuanmu, karena jika Anda mampu maka Anda tidak perlu Tuhan. Lagipula itulah yang Tuhan inginkan bagi anak-anakNya agar mereka bisa mengembang ke kanan dan kekiri, dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Yes 54:2-4).

Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. 4 Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu.

Anyway, permintaan kita bisa saja malu-maluin saking ‘gede’nya tapi sebenarnya kita tidak akan mendapat malu pada saat semua itu diwujudkan Tuhan. (Yes 54:4).

Comments 4 Comments »

Minggu lalu, saya, ibu mertua, anak-anak kami Joel (4) dan Mathew (1) mengadakan perjalanan dari Hong Kong menuju Macau. Kami akan mengunjungi gereja yang baru dirintis di Macau sekaligus mendapatkan perpanjangan ijin tinggal di Hong Kong.

Transportasi antara Hong Kong dan Macau hanya bisa ditempuh lewat laut dan memakan waktu sekitar satu jam. Tidak masalah, beberapa Ferry bermesin jet turbo tersedia setiap 30 puluh menit. Menumpang armada-armada ini tidak bedanya dengan berada di pesawat terbang karena kenyamanannya mengantar ratusan pelancong, commuter dan penjudi kelas dunia menuju Las Vegas Asia itu.

Namun, cuaca hari itu sangat buruk, hujan deras, kilat sambar menyambar, angin kencang. Sebagai informasi Hong Kong adalah kota yang cuacanya tidak bisa diprediksi, sesaat hujan lebat namun beberapa detik kemudian matahari bersinar cerah. Kota ini juga dikenal dengan bencana alam yang ekstrim terutama typhoon dan tanah longsor.

Hujan dan angin serta badai yang di lautan sangat ganas seakan tidak senang menyambut kunjungan pertama saya ke kota Macau. Kapal ferry tumpangan kami dihempas gelombang setinggi, oh God, I can’t describe it. Rasanya seperti sedang berada di jet coaster, permaianan yang paling tidak saya sukai. Bedanya jet coaster yang terdapat di Disneyland misalnya, hanya berlangsung selama lima menit dan semua penumpang tahu bahkan berekspektasi dengan turmoil buatan itu. Saat ini, tidak ada seorangpun yang memiliki keinginan lain selain dari menikmati perjalanan yang tenang dan damai serta selamat sampai tujuan.

Beberapa saat ombak membawa naik kapal kami naik dan detik berikutnya menghempasnya kebawa tanpa ampun. Para penumpang berteriak-teriak dan beberapa orang muntah-muntah. Saya sendiri pusing, mual dan ingin muntah juga namun berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengangis. Meskipun sebenarnya dalam hati perasaan takut, tegang, panik, tentu saja concern utama saya adalah kedua anak saya yang juga sangat ketakutan. Saya berdoa, berbahasa roh, bertobat, let God knows that I love Him, anything. Saya dan mami bergantian memeluk Joel dan Mathew erat-erat , berdoa dan menenangkan mereka.

Di tengah perjalanan tiba-tiba layar TV menanyangkan bagaimana cara mengenakan pelampung diperagakan oleh seorang model yang rapih, ayu dan lemah lembut. Yang dengan tenang, lambat, penuh senyum, menaruh penampung di lehernya seakan khawatir tatanan rambutnya rusak karena pelampung tersebut. “Iklan meyesatkan!” kata saya dalam hati. “Keadaan bahaya, penumpang panik, tidak akan setenang itu dan lagi ngapain senyum saat sedang terjadi evakuasi?”

“Percuma!” kata saya lagi, masih dalam hati dan kesal sekali. “Mengapa peragaan itu ditayangkan sekarang? Mengapa tidak dari tadi sebelum kapal berangkat? Dimana kaptennya mengapa tidak memberi kata-kata yang menenangkan? Mengapa kami tidak diberi tahu sebelumnya supaya siap sedia menghadapi disaster ini? Apakah ada cara untuk kembali? Kapan kapten akan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan atau kembali ke pangkalan? Kapan dan bagaimana proses evakuasi dimulai? Siapa yang akan menolong kami? Apakah di atas sudah ada helikopter yang sidap sedia? Dan bagaimana dengan Joel dan Mathew? Apa yang harus saya lakukan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya? Oh, God, is this the time?”

Pertanyaan-pertanyaan ini dan seribu pertanyaan berkecamuk dihati saya. Sampai akhirnya kami tiba di Macau setelah satu setengah jam diombang-ambing gelombang dan dihempas badai. Semua lewat, badai mungkin tidak seburuk yang saya kira. Kapal tidak tenggelam dan kami selamat.

Namun, saya belajar dua hal. Pertama, Be ready for the unpredictable!. Kata orang kita harus siap sedia bahkan untuk kemungkinan terburuk. Prediksikan hal-hal tidak terprediksi. Kesiapan dan informasi membuat kita lebih tenang dan berpengharapan. Kedua, pelajari prosedur keamanan. Seringkali ketika pramugari memperagakan prosedur evakuasi, para penumpang pesawat memalingkan wajah, pura-pura tidur, baca koran, seakan-akan itu adalah pertunjukkan yang paling membosankan dan sangat tidak diharapkan. Sang pramugari juga tahu bahwa peragaannya tidak diinginkan sehingga sering melakukannya dengan asal-asalan dan secepat mungkin meyelesaikan tontonan konyol tersebut. Padahal, jika situasi bebahaya itu tiba tidak ada seoragnpun yang memiliki waktu untuk belajar.

Hidup kita juga sering mengalami badai, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang bisa diprediksi dan ada yang tidak. Penuhi diri kita dengan informasi dan prosedur penyelamatan jauh sebelum semuanya terjadi. Salah satu sumber informasi yang paling andal adalah Firman Tuhan. Misalnya, Tuhan berkata barangsiapa yang mengikut Yesus harus memikul salibnya, membuat setiap orang Kristen harusnya tahu bahwa kekeristenan tidaklah semata-mata kekayaan, kemakmuran, hidup penuh berkat, bebas dari setiap masalah. Prediksikan masalah, penolakan, pengkhianatan, kegagalan, sakit penyakit dan kematian. Kita tidak akan luput dari hal-hal yang demikian. Menjadi Kristen adalah menjadi manusia biasa yang memiliki Tuhan yang luar biasa.

Comments 4 Comments »

Sejak mengenal Yesus pertama kali, saya banyak mengalami puncak dan lembah. Saya telah menyaksikan bagaimana Tuhan lewat Roh Kudusnya bekerja. In fact, saya percaya diberikan beberapa karunia roh. Saya mengalami masa-masa dipakai Tuhan dan menyaksikan mujizat. Melihat orang bertobat dan hidupnya diubahkan Tuhan.

Namun ada saatnya saya juga berada di lembah. Saat seperti itu Allah menjadi lain dan tidak ‘terkenali’. Ia bukan seperti Tuhan yang biasanya, penuh kasih, perduli, menjawab doa, memberi kekuatan, mengampuni dosa. Ia terasa jauh, dingin dan tidak terjangkau.

Tak perduli berapa lama dan berapa banyak saya menyaksikan pekerjaan Tuhan, dalam hati saya pernah timbul keraguan: “apakah Tuhan benar-benar ada?” atau “jika Tuhan benar-benar ada apakah ia perduli?” atau “mengapa Tuhan meninggalkanku?”

Saya tidak tahu apa yang dialami saudara, tapi jika saudara mengalami seperti yang saya alami maka anda juga mengalami apa yang dialami nabi-babi besar seperti Elia dan Yohanes bahkan Tuhan Yesus.

Elia, setelah mengalami kemenangan di gunung Karmel lari ketakutan dan bersembunyi karena di ancam Izebel. Setelah Tuhan memakainya untuk membunuh 400 nabi Baal, menurunkan api dari langit, mengadakan hujan, tiba-tiba ia tidak yakin jika Tuhan sanggup melepaskannya dari tangan seorang wanita.(I Raja2 19)

Yohanes pembabtis setelah lebih 30 tahun melayani Tuhan, hidup di hutan dgn makan madu dan belalang, membaptis Tuhan Yesus, menyaksikannya mujizat yang dilakukan Yesus, kemudian bertanya “apakah benar Ia Mesias yang akan datang itu atau adakah yang lain?” (Matius 11)

Bahkan Yesus pada saat tergantung di kayu salib berseru “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

MENGAPA???

Ada 4 Penyebab orang berada dalam keraguan ttg Tuhan

1. Kelelahan

Setiap kemengangan akan diikuti oleh masa kekelaman. Sehabis berperang prajurit akan merasa kelelahan. Baik secara fisik, mental, rohani jika kita terlalu lelah maka iman kita akan menjadi lemah. Saat itulah iblis akan menaruh keraguan dihati kita.

Elia merasa lelah setelah pertarungannya dengan nabi2 Baal bahkan dgn tangannya sendiri ia telah membunuh mereka (1 Raj 19:1), maka kelelahanlah ia.

Tidak perduli berapa banyak mujizat yang kita saksikan. Seperti bangsa Israel di Padang Gurun yang menyaksikan mujizat, jika kita lelah maka kita lemah.

Solusi: Berjaga-jaga. Jangan terlalu lelah. Kita haru menjaga stamina rohani. Minum multivitamin dan makanan bergisi akan menjaga stamina kita. Exercise akan menjaga kebugaran kita. Maksudnya secara fisik , jiwa dan roh kita harus menjaga stamina kita.

2. Kesendirian

Pada waktu menerima ancaman Izebel Elia memilih meninggalkan bujangnya dan lari sendiri (1 Raj 19:3). Kesendirian membuat kita lemah. Kita butuh fellowship, persekutuan dan saudara. Jika saudara lemah maka saudara yang lain bisa menguatkan.

Jangan tinggalkan pertemuan ibadah dan pelayanan. Ini salah satu kesalahan Elia. Elia lari dari pelayanannya di ayat 9 dan 13 Tuhan bertanya : “apa yang sedang engkau kerjakan disini elia?” Kemudian di ayat 15 Tuhan berkata” Pergilah kembalilah ke jalanmu…”

Ada tugas penting yang akan diberikan Tuhan tapi Elia jatuh dalam dosa “mengasihani diri sendiri”. Jika kita meninggalkan pelayanan kita tidak melayani maka focus kita akan beralih ke diri sendiri.

Iblis seperti singa yang mengaum-ngaum mencari cela untuk menjatuhkan kita jika lengah (1 Pet 5:8).Keadaan sendiri memudahkan pekerjaannya ini!

Solusi: Jangan malu untuk minta batuan doa dan sharing masalah. Dan jangan pernah meninggalkan pelayanan dengan alasan ‘need time alone’.

3. Kekecewaan (1 Raj 19, Mat 11)

Baik Elia maupun Yohanes mengalami kekecewaan ini. Di ayat 10 Elia berkata: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan…” Elia tidak menyangka bahwa Tuhan akan membawa ia ke situasi yang sulit setelah apa yang telah ia lakukan bagi Tuhan.

Demikiannya juga dengan Yohanes yang tentu berharap bahwa Yesus akan mengeluarkannya dari penjara, tapi tidak dilakukannya.

Kita juga sering kecewa dengn Tuhan jika apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, terutama jika kita sudah giat dan setia.

Solusi: Jawaban Yesus di Matius 11:6 “berbahagialah orang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku! Kekecewaan akan menguasai kita, jika kita ijinkan.

4. Penderitaan

Penderitaan Yesus di kayu salib karena memikul dosa-dosa kita. Penderitaan terberat karena Yesus harus menanggung hukuman yang harusnya menjadi milik kita.

Solusi: know your purpose!!

Hidup tanpa tujuan membuat frustasi. Tapi purpose atau visi menguatkan bahkan di saat paling kelam sekalipun.

Comments 2 Comments »

Positive mind produce positive lives. Negative minds produce negative lives. Positive thoughts full of faith and hope. Negative thoughts full of fear and doubt. (Joyce Meyer)

Darimana datangnya pikiran-pikiran negatif?

Kebayakan pikiran negative datang dari luka-luka masa lalu. Mereka adalah orang-orang yang sudah sering mengalami disakiti dan dikecewakan. Ciri-ciri orang seperti ini :

  1. Rendah diri. Mereka memilih untuk bersembunyi, menghindar atau lari. Jika diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu mereka bisanya menolak, karena mereka takut gagal, ditertawai, dipermalukan. Hasilnnya mereka tidak pernah bisa mengembangkan potensi yang Tuhan berikan.

    Mereka juga takut bermimpi dan berharap, menjadikan mereka orang-orang yang kurang sukses dalam hidup mereka. Karena tidak mau ambil resiko mereka juga jarang mengalami kemenangan. Kata2 yang paling sering mereka ucapkan “ndak usah mimpi tinggi2″, “jangan terlalu banyak berharap”

  2. Suka menyakiti orang lain dengan tindakan dan perkataan. Karena dalam hati mereka penuh luka maka yang keluar juga adalah kata-kata yang kasar dan pedas. Mereka juga lebih memilih menyakiti daripada disakiti. Jika kita masak bahan yg sudah dibersihkan tapi dihidangkan di tempat yg kotor maka kotorlah seluruh masakan. Demikian juga segala sesuatu yang baik jika masuk kedalam hati orang yang penuh luka dan sakit hati juga akan tercemar.
  3. Pandai dalam urusan protes dan kritik. Keahlian mereka adalah mencari kesalahan diantara kebaikan, kekurangan diantara kelebihan. Jika berada dalam suatu disituasi mereka lebih suka melemparkan kritik daripada memberi pujian.

Ada ayat yang selalu menjadi pegangan kami : Roma 8:28 ! Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa segala sesuatunya baik tapi segala sesuatu bekerja untuk mendatangkan kebaikan termasuk hal-hal yan buruk.

Adalah baik kalau kita punya pengharapan. Tapi jika tidak terjadi sesuai dengan yang kita harapkan atau rencanakan jangan kecewa apalagi putus asa.

Banyak yang kecewa waktu mereka ke gereja karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan. Karena sejak dari rumah mereka sudah membuat rencana, goal, ekspektasi yang jika tidak mereka dapatkan menjadi kecewa.

Sebagai manusia kita mempunyai banyak ekpektasi. Orang yang positif tau bahwa tidak semua keinginannya dapat terpenuhi. Orang negatif kecewa bahkan sebelum mencoba.

Senang jika bisa bergaul dengan orang positif karena mereka selalu membawa kegembiraan dan kecerahan. Mereka juga adalah orang-orang yang dapat memberi semangat dan pujian. Orang-orang seperti biasanya punya banyak teman.

Beberapa orang negatif punyak banyak teman tapi mereka juga adalah sama-sama negatif. Kebiasaan mereka adalah mencari kesalahan orang lain dan membahasnya bersama-sama. Jika ada yang kecewa mereka juga tahu bagaimana menghiburnya dengan encouragement yang negatif. Biasanya orang yang negative akan terhibur mendegar nasihat yang negative juga. Ia merasa terhibur karena tahu bahwa ada orang lain yang sama buruk dengna dirinya.

Langkah penyelamatan:

1. Orang negatif tahu kekurangan orang lain tapi tidak tahu kekuragan diri sendiri. Coba kenali kelemahan kita yang satu ini kemudian…

2. Akui itu dihadapan Tuhan. Setelah itu…

3. Minta Roh Kudus memulihkan. Dan akhirnya…

4. Sel Discipline : karena pikiran2 suka lama bercokol di pikiran butuh waktu dan kemauan yang kuat untuk mengeluarkannya.

Philippians 4:8 adi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajkan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Comments No Comments »

 

“Petama-tama aku mohon maaf telah lancang menulis surat buat bapak karena bapak sendiri tidak mengenali diriku. Aku Ginanjar (bukan nama sebenarnya) yang sedang mendapatkan kesulitan yang sangat besar gara-gara minuman keras. Aku telah berbuat kesalahan, kini aku mendekam di penjara. Aku membutuhkan bantuan, suapaya hukumanku bisa diberi keringanan. Aku telah di fonis 12 tahun mudah-mudahan bapak merasa kasihan dan mau membantuku. Kasihan keluargaku sekarang pada ikut menderita terutama anak dan isteriku. Aku sendiri tidak menyangka bahwa perjalanan hidupku akan seperti ini. Tolonglah aku biar kehidupanku tidak hancur, aku kasihan pada anakku, dia belum tahu wajah bapaknya. Padahal rencanaku tahun ini aku mau pulang, tetapi aku malah berbuat kebodohan gara-gara minuman keras, sampai aku tidak sadar sama sekali dan aku telah membunuh seseorang.

Setidaknya sudilah bapak mau membantuku biar aku diberi keringanan dalam persidangan ini. Aku minta maaf yang besar-besarnya telah memohon pertolongan kepada bapak. Sampai disini dulu surat saya. Apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

=========

Ini adalah surat yang kami terima beberapa waktu yang lalu dari seseorang yang tidak kami kenal dan sekarang mendekam di salah satu penjara di Korea. Sejenak saya terpana membaca surat ini. Sungguh sedih jika ada seorang ayah yang merantau jauh untuk mencari nafkah dengan menjadi TKI akhirnya bernasib demikian. Terbayang anak istri yang sedang menantinya di tanah air. Ingin rasanya membantu, tapi apa daya? Kami bahkan bukan pengacara. Keputusasaan mencari bantuan hukum di negeri orang ditambah rasa bersalah yang besar terhadap keluarganya, telah menghantar suratnya kepada kami.

Semuanya karena ‘minuman keras’ katanya. Minuman yang membuatnya tanpa sadar telah melakukan tindakan yang tidak akan terlintas di kepalanya jika ia tidak mabuk. Pada saat efek minuman itu hilang ia berhadapan dengan dua kenyataan : tubuh tak bersalah yang terkapar tanpa nyawa dan masa depannya yang gelap tak berarah ! Tidak ada pintu untuk kembali. Tidak ada pilihan  selain pengadilan yang sudah pasti akan menjatuhkan hukuman pada diirnya. Bukan pada ‘minuman keras’ yang telah mengendalikannya, bukan juga pada penjual ‘minuman keras’ yang dengan mudahnya ditemui disetiap sudut kota.

Penyesalan selalu datangnya belakangan. Itu sebabbya ia disebut ‘penyesalan’. Jika ia timbul sebelum semuanya terjadi ia akan dinamakan ‘kebijaksanaan’. Seorang ayah yang bijaksana yang mengasihi keluarga, yang merantau meraup jutaan rupiah setiap bulan. Seroang kepala keluarga yang merencanakan masa depan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani mereka. Seorang beragama yang tahu membedakan pergaulan yang merusak dan yang membangun. Seorang dewasa yang tahu bahwa ‘minuman keras’ hanya menipu dengan kenikmatan sementara dan tidak bisa dijadikan tempat pelarian. Seorang laki-laki bisa mengendalikan dirinya. Ah, seandainya pikiran-pikiran inilah yang diturutinya…

“Minuman Keras’ katanya. Pemakainya disebut alcoholic, ketergantungan padanya disebut Alcoholism. Alcoholism yang tebukti telah menjadi penyebab tindakan kriminal seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, perampokan dan lain lain. Ia juga alasan keluarga menjadi disfungsional, rumah tangga berantakan, pertikaian, perceraian, perseteruan dan pemberontakan anak terhadap orang tua. Ia juga adalah penyebab utama kecelakaan di jalan raya, tabrak lari, dan pelanggaran lalu lintas lainnya.

Untuk istilah kedokteran ia disebut ‘disease’. Bagi psikolog ia dikenal dengan julukan ‘disorder’. Bagi genetiscists ia adalah ‘hereditary’. Bagi rohaniawan ia dikenal sebagai ‘bondage’ . Dokter akan Memberikan medication dan detoxicifcation, psikolog akan memberikan therapy dan psychotherapy. Rohaniawan akan mendoakan dan mengadakan peperangan rohani.

Come on…apapun namanya tidakkah manusia sadar bahwa pandemic in telah membunuh manusia lebih banyak dari musibah bencana alam manapun. Tidakkah kita sadar bahwa ia telah megacaukan akal sehat dan mengendalikan pikiran dan tubuh manusia yang seharusnya dipakai untuk memuliakan Tuhan?. Mengapa memberi tempat baginya dalam hidup kita? Mengapa memakai alasan “asal tidak mabuk’, “asal tidak kecanduan” “asal tidak terlalu sering”, “hanya untuk bersosialisasi”.

Mengapa memberi jalan baginya dalam hidup kita? Ia yang telah menyebabkan seorang laki-laki membunuh, pengedara menabrak mati anak kecil, suami menganiaya isterinya, ayah meninggalkan keluarganya, anak muda kehilangan masa depan, bayi lahir cacat. Ia adalah teroris paling kejam namun paling mudah ditemui.

Jika saja di hati manusia ada sedikit kebijaksanaan..?

Comments 4 Comments »

Percayakan Anda pada mujizat? Pernakah Anda mendengar cerita seseorang yang mengalami mujizat atau malah Anda sendiri pernah mengalaminya?

Untuk masalah mujizat, Dunia Kekeristenan terdiri dua golongkan, tiga untuk persisnya.

Golongan pertama (liberal )yang percaya bahwa mujizat adalah Myth. Cerita mujizat yang terjadi di dalam Alkitab adalah pandangan penulis tentang apa yang diyakininya sebagai mujizat, meskipun sebenarnya tidak demikian. Semua ada penjelasan logis untuk setiap kejadian supra natural.

Golongan kedua (konservatif) yang percaya bahwa mujizat itu ada dan terjadi. Mereka juga percaya akan ke-authentic-an dan inerrancy dari Alkitab. Meskipun demikian dari golongan konservatif in terbagi lagi atas dua golongan : golongan konservatif pertama yaitu mereka yang percaya bahwa mujizat telah berakhir pada jaman Kisah Para Rasul. Dan golongan konservatif kedua yaitu mereka yang percaya bahwa mujizat masih terjadi sekarang.

Golongan ketiga (Netral)adalah mereka ‘in between’ these two tension. Mereka adalah orang-orang yang ‘wait and see’: Melihat baru percaya. Kemungkinan mereka adalah orang-orang Kristen ‘keturunan Thomas’. Orang-orang yang tidak mau mengambil resiko salah atau ditertawai jika imannya tidak bekerja. Hatinya percaya tapi rationya menentang. Jika mujizat terjadi mereka akan berusaha mencari jawaban secara logic dulu dan setelah gagal mereka akan membiarkan waktu menjawabnya.

Tahukah Anda bahwa ada lebih banyak orang Kristen golongan pertama dan ketiga daripada gologan kedua? Dan dari yang golongan kedua ini ada yang lebih banyak golongan kedua- pertama daripada gologan kedua -dua?

Apa yang Anda percayai? Dan bagaimana dengan saya sendiri?

Well, saya tergolong pada Golongan Konservatif Kedua. Dengan iman saya percaya Tuhan sanggup melakukan mujizat, percaya semua yang terjadi dalam Alkitab memiliki ‘literaly meaning’, percaya juga bahwa mujizat masih terjadi sekarang bahkan yang lebih besar dan dahsyat dari yang tercatat di Alkitab -seperti janji Tuhan-.

Tapi saya juga bisa tergolong dalam golongan ketiga dalam hal ‘kehati-hatian’ menilai apa yang dikira orang mujizat. Dan saya tidak pernah menyetujui ide dari golongan liberal dan golongan konservatif pertama.

In fact, saat ini saya sedang menanti terjadinya mujizat….

Comments 12 Comments »

Siapakah orang yang terpandai yang pernah hidup? Jika pertanyaan ini dilontarkan, pikiran yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah Albert Eisntein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Mozart, atau sederetan nama terkenal lainnya.

Tapi jawabannya bukan mereka. Orang yang paling pandai yang pernah hidup bernama William Sidis. Jika orang normal memiliki IQ 90-110, Albert Eistein sebagai prototype jenius memiliki IQ 160, Sidis memiliki IQ yang ‘out of scale’. Diperkirakan IQ-nya berkisar 250-300.

Menurut ibunya, Sidis mulai berbicara pada usia 4 bulan dan membaca Koran pada usia 18 bulan. Pada usia 8 tahun ia mengajari dirinya sendiri bahasa Latin, Yunani,, Rusia, Prancis, Jerman, Ibrani, Armenia dan Turki. Ia akhirnya dapat menguasai 40 bahasa dan kabarnya ia bisa belajar bahasa dalam satu hari. Ia menyelesaikan SD dalam 7 bulan, Sekolah Menengah 6 minggu dan lulus Kedokteran Harvard dan MIT pada waktu berusia 11 tahun.

Sayangnya William Sidis meninggal pada usia 46 tahun karena stroke dan sejarah hampir tidak mencatat apa-apa tentang dia. Ia tidak punya peninggalan seperti jenius lainnya. Ia tidak memiliki apa-apa yang bisa disumbangkan bagi peradaban manusia padahal ia lahir di abad ke 20. Hidup dan potensinya sia-sia karena tidak ada keinginan untuk menyumbangkan sesuatu bagi kepentingan dunia.

Kepandaian tidak menentukan kontribusi dan pengaruh yang kita berikan bagi sesama. Dampak bagi umat manusia hanya datang dari keinginan atau desire untuk melakukan dan mengembangkan dan potensi yang kita miliki. Itulah yang menentukan tingginya puncak hidup seseorang.

Kebanyakan kita tidak dilahirkan sebagai orang jenius, namun kita adalah makhluk yang diciptakan sesuai dengan image Tuhan. Kepada kita telah diberikan kemampuan yang unik oleh Sang Pencipta. Tujuan Tuhan agar manusia bisa memuliakanNya dan menjadi penguasa atas ciptaanNya yang lain. Jangan sia-siakan potensi yang Tuhan sudah investasikan dalam hidup kita. Temukan dan kembangkan.

Comments 6 Comments »

Saya duduk terpaku di depan  komputer. Telapak tangan dingin berkeringat, kepala pusing dan dada sesak. Sepanjang hari saya jadi murah marah dan tersinggung bahkan untuk masalah yang sepele. Rasanya kesal dan out of control. Ingin sekali mencari kambing hitam dan melemparkan kesalahan kepadanya. Sayang tidak ada kambing di Korea, lagi pula ‘kesalahan’ yang akan dilemparkan juga tidak ada.  

Berbulan-bulan  sudah saya mengurus dokumen untuk program doktor dan browsing untuk segala kemungkinan grant dan scholarship. Saat pintu hampir terbuka, transcript dari universitas di Indonesia belum bisa diurus. Alasannya, unik dan cuman ada di Indonesia: libur bersama, fakulty cuti, demo mahasiswa, huru-hara, kemudian libur lagi… so on. Mak…! deadline sudah dekat. Beberapa tahun ini rencana untuk melanjutkan sekolah  selalu ada saja halangannya. Kalau orang bilang mimpi itu gratis, rasanya nggak juga: it has prices!.

Dan itu hanya salah satu masalah saja, masalah-masalah lain seperti orang tua sakit berat, anak-anak rewel dan butuh perhatian, pekerjaan rumah  menumpuk dan tumpang tindih , dsb…

Nando selalu memberi semangat dan berkata “bisa kok sayang” yang rasanya seperti satu karung beras dipikulkan ke pundak saya, bertambah sekarung tiap kali ia mencoba menghibur.

Saya pun menarik diri dari depan komputer dan mulai merenung: mengapa Anxiety ini datang?

=====

Anxiety adalah alarm bahwa kita sedang berhadapan dengan situasi yang berbahaya. Reaksi ini normal dan natural, sama seperti rasa takut, marah atau senang.

Anxiety muncul  jika situasi menjadi tidak pasti, keadaan tidak terkontrol, tangung jawab bertambah, tugas menumpuk, keinginan tidak tercapai, tekanan berat dan tuntutan betubi-tubi.

Anxiety menyerang jika kita menyambut rasa  khawatir, takut, cemas dan risau dan menjamu mereka.

Dan sebagai orang Kristen, anxiety adalah tanda bahwa kita sedang mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi bagian Tuhan. Anxiety bisa juga berarti signal bahwa jalan yang akan kita ambil bukanlah kehendak Tuhan.

Ada yang menghitung bahwa kata seperti “Jangat takut…”, “do not fear..”, “ don’t be afraid..!”, terdapat sebanyak 365 kali  dalam Alkitab, yang berarti paling tidak satu kali dalam sehari Tuhan ingatkan kita bahwa “He is in control”

Tuhan ingin kita mensyukuri berkat-berkatnya. Tapi berkat-berkatNya itu tidak bisa dinikmati jika hati kita kacau balau. Perasaan takut, khawatir dan cemas membuat pandangan rohani kabur sehingga perkerjaan Tuhan menjadi tidak berarti. Karena mata rohani tidak bisa melihat dengan jelas, kita terpaku dengan pintu yang tertutup dan meratapinya sehingga gagal melihat pintu-pintu yang sedang dibukakan Tuhan. 

Hari itu setelah menyadari semua ini, saya menarik napas panjang dan mengembalikan semua pada tempatnya. Bagian Tuhan menjadi bagianNya dan bagian saya menjadi milik saya. That’s all. Ada rasa syukur dan tenang, karena saya percaya everything is in God’s  control.

Comments 4 Comments »

Louisiana Jones Acthitcountersite.com -->