Nancy Dinar on December 24th, 2011

Anak pertama kami lahir tujuh minggu sebelum waktu yang diperkirakan dokter. Dengan berat 2,2 kg, 49 cm, badannya keriput berwarna kekuningan, paru-paru dan livernya belum berfungsi sempurna.  Karena itu kami tidak bisa langsung memeluk apalagi membawanya pulang. Ia harus menginap di ruang NICU.

Delapan belas hari adalah waktu yanga sangat lama buat kami menunggu. Kami hanya diberikan waktu 2 kali sehari untuk menjenguk. Setiap kali dengan sarung tangan, topi dan jubah yang steril, memandang makhluk kecil tak berdaya dalam tabung inkubator. Berbagai selang dan suntikan dihubungkan ke dalam tubuhnya. Salah satunya yang dimasukkan dari hidung sampai ke dalam dalam tenggorokan. Saya khawatir dia kesakitan karena seluruh alat bantu tersebut.

Di rumah saya tidak henti-hentinya mencuci baju bayi, menyetrika, melipat, serta mempersiapkan segala keperluannya ketika nanti bisa dibawa pulang. Sebagian karena kasih sayang yang melimpah, sebagian lagi karena rasa bersalah melihat keadaanya.

Waktu harinya kami bisa membawa pulang Joel, kami senang bercampur panik. Bayangkan selama ini seluruh keperluannya diatur dan disediakan Rumah Sakit, sekarang semua tanggung jawab itu menjadi milik kami. Saya masih takut memeluknya erat-erat, takut tulang-tulangnya patah. Saya melepas baju rumah sakit yang tidak modis itu dan menggantinya dengan baju yang sudah saya siapkan. Seketika tubuhnya tenggelam karena baju itu sangat kebesaran padahal itu adalah ukuran terkecil yang bisa kami dapatkan di toko.

Ketegangan memuncak, seringkali suami dan saya bertengkar, kami bingung dan penuh ketidaktahuan. Tubuhnya masih sangat kecil dan rapuh. Jadwal tidur kami jungkir balik. Jadwal makan apalagi. Saya baru menyadari bahwa ‘life is never be the same again’, hidup kami berubah dalam semalam. Dan tidak pernah akan sama lagi.

Semua orang tua punya ceritanya sendiri ketika anak mereka lahir. Ada yang sama dengan cerita saya, ada yang beda. Tapi semua pasti setuju kalau anak kita mengubah hidup kita selamanya.

Apa yang terjadi 2000 tahun lalu ketiak bayi Yesus dilahirkan? Dampak apa yang dibawa oleh bayi itu bagi orang tuanya? Kelahiran Yesus bukan hanya mengubah kedua orang tuanya, tapi juga mengubah baik orang-orang disekitarnya maupun yang jauh di negeri antah berantah.

Inilah apa yang mereka alami:

1. Yusuf dan Maria (Mat 1:19-20)

Seperti banyak pasangan muda lainnya yang sedang dimabuk asmara dan dipenuhi mimpi-mimpi, hidup mereka berubah dalam sekejap. Untuk sementara mimpi mereka berantakan dan apa yang mereka alami seperti musibah. Apa alasan yang pantas bagi keluarga dan masyarakat mengenai kehamilan Maria di luar nikah? Namun, ketaatan dan penyerahan hidup mereka akhirnya memulihkan musibah menjadi mujizat.

Sejak saat itu hidup Yusuf dan Maria adalah menjadi alat Tuhan. Rencana dan impian mereka tentu berubah, tapi untuk sesuatu yang jauh lebih mulia.

2. Orang Majus (Mat 2:11-12)

Mulanya para Orang Majus ini mencari bayi yang dilahirkan berdasarkan bintang yang mereka lihat. Ilmu dan kepercayaan mereka akhirnya membawa mereka ke Yerusalem berhadapan dengan Herodes.  Apa yang seharusnya menjadi pertemuan yang indah dari seorang ‘calon raja’ dan penyembahnya menjadi rencana malapetaka. Setelah bertemu dengan bayi Yesus, orang-orang majus itu diperingatkan malaikat untuk mengubah haluan dan tidak bertemu Herodes lagi.

Pertemuan dengan Yesus memberikan perlindungan dan pimpinan Tuhan terutama untuk mengubah haluan karena bencana ada di depan mereka. Mereka luput dari maut dan rencana jahat Herodes.

3. Para Gembala (Luk 2:8-20)

Dari banyak golongan manusia, bangsawan, cedikiawan,  pengusaha, tentara, pemungut cukai, dll, para gembala inilah yang mendapatkan kehormatan untuk melihat agungnya hadirat dan kemuliaan Tuhan. Bisa dimaklumi karena Yesus dilahirkan di kandang domba, para gembala adalah profesi yang paling pantas untuk diundang.

Undangan untuk mengalami hadirat dan kemuliaan Tuhan diberikan untuk seluruh kalangan. Tapi seringkali dari kalangan yang terkecil dan terbuanglah undangan ini lebih ditanggapi. Tuhan dekat dengan mereka yang tidak diperhitungkan dunia.

4. Herodes (Mat 2:16-17)

Ketika Herodes tahu bahwa ada bayi istimewa yang dilahirkan di Yerusalem, Ia merasa terancam. Terlebih lagi rencananya untuk membunuh bayi tersebut gagal karena orang majus yang berjanji akan menemuinya tidak pernah muncul lagi batang hidung mereka. Herodes mengambil keputusan keji untuk membunuh seluruh bayi di Betlehem dan berharap salah seorang dari mereka adalah Yesus. Tentu saja, Herodes dengan segala kekuasaan, ilmu pengetahuan dan kekejiannya tidak bisa menghalangi rencana Tuhan untuk dunia ini.

Rencana Tuhan tetap akan terlaksana apapun penghalangnya. Kita tentu ingin menjadi bagian bagi terlaksanya rencana ini bukan penghalang.

Nancy Dinar on October 17th, 2011

Ketika Matthew pertama kali masuk Pre-School di Korea, kata-kata pertama yang dipelajarinya adalah “Ne Kko” (Punyaku). Meskipun berusia hampir 3 tahun saat itu, Matthew masih kesulitan berbicara. Kami sadar sebenarnya bukan ide yang baik untuk menambah beban anak yang lambat bicara dengan bahasa yang baru sebelum ia menguasai bahasa ibunya.

Saat ia berkata “Ne Kko” untuk segala benda yang ia sukai, kami sangat senang. Pertama karena ia mau ngomong, kedua, kami maklum dengan cara berpikir anak seusianya. Sebagai orang tua kami yakin, bahwa seiring dengan bertambahnya usia ia akan belajar dengan sendirinya bahwa dunia ini bukan miliknya seorang. Ia bukanlah pemilik dan penguasa jagad raya. Ia juga tidak selalu bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Setiap orang yang normal akan melewati milestone ini yang disebut narsisme kanak-kanak. Sebagian besar kemudian dapat menanggulangi perasaan ini sehingga pantas disebut dewasa. Namun ada sebagian kecil orang yang kurang mahir dalam memahami realitas sehingga membawa sifat ini hingga mereka besar, kita menyebut mereka narsis!

Sebenarnya mudah untuk mengenal seorang yang berkepribadian narsis. Dengar saja bagaimana mereka berbicara. Apa topik dan fokus utama pembicaraan mereka? Apakah mereka bertanya “Hai kemana saja liburan ini”?  Ketika lawan bicaranya menjawab “Baik, saya dan keluarga pergi ke Ancol.”. “Wah, saya juga liburan ke….” Mereka tidak dengan begitu perduli dengan apa yang terjadi dengan orang lain. Seringkali pertanyaan mereka hanya untuk memancing topik yang menarik untuk mereka bicarakan: diri sendiri!

Tapi kadang kala orang narsis juga menyamar dan memakai topeng sehingga tidak mudah dikenali. Mereka baik, suka menolong, bahkan sangat rendah hati. Meskipun dalam hati mereka bergejolak dengan perasaan tertolak dan tidak berharga, tidak seorang pun tahu.

Beberapa ciri-ciri lain orang yang narsis adalah :

Super Sensistif Terhadap Kritikan

Menerima kritikan memang tidak membuat hati nyaman.  Orang yang normal pun bisa kesal dan marah. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Apalagi ketika menyadari bahwa krtikan itu baik dan  membangun. Tidak demikian dengan orang  narsis. Mereka sangat sensitif terhadap kritikan. Tipikalnya mereka akan menjadi sangat emosional bahkan menyerang balik orang yang tidak sejalan dengan pendapatnya.

Memanipulasi Orang Lain

Tidak semua orang narsis tampak sombong dan arogan. Kadang mereka memakai topeng kerendahatian. Karena dasarnya seorang narsis adalah rasa tidak aman, mereka mau menghindari segala macam bentuk kejadian yang bisa mempermalukan diri mereka. Mereka ingin memukau orang lain dengan kerendahatian  dan berbagai sifat yang baik.

Memanfaatkan Orang

Seorang narsis memanfaatkan orang juga tanpa rasa malu atau rasa bersalah. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan mengambil kredit dari apa yang dikerjakan orang lain. Apalagi jika seorang nariss menduduki jabatan pemimpin, memakai berbagai cara untuk mencapai tujuan pribadi mereka.

Mencari Kambing Hitam

Seorang narsis merasa malu akan kegagalan dan ketidakmampuan mereka. Sulit bagi mereka untuk mengakui atau meminta meminta maaf apalagi menyesal untuk kesalahan yang mereka perbuat. Untuk itu mereka sering melemparkan kesalahannya kepada orang lain.

Mencari Perhatian

Seorang narsis jarang menyombongkan diri secara langsung tapi mereka ahli dalam membangun image yang menunjukkan betapa pentingnya mereka.  Dengan sengaja penampilan, perkataan, status FB dan tweeter mereka menunjukkan bahwa mereka orang penting.

Nancy Dinar on October 4th, 2011

Dalam menjalankan peran sebagai orangtua seringkali kita bertanya-tanya. Apakah prilaku anak kita  normal? Apakah pola pengasuhan kita sudah benar? Bagaimana cara mendisiplinkan anak dengan tepat? Bagaimana menerapkan disiplin yang efektif tanpa melukainya secara psikologis?

Bagi saya ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada putusnya selama kita mengemban tugas sebagai orang tua. Sejak anak-anak kita kecil sampai mereka dewasa, bahkan ketika mereka sudah mandiri, peran kita sebagai orang tua tidak mengenal masa pensiun. Saya menulis bukan sebagai orang tua yang sempurna dan serba tahu tapi justru berangkat dari kebingungan saya sendiri sebagai seorang ibu. Tahun-tahun yang saya lewati dipenuhi kecemasan dan rasa ingin tahu. Emosi dan tenaga terkuras dalam pencarian jati diri, kadang terjepit di antara peran sebagai ibu dan wanita karir.

Ternyata, peran sebagai orang tua adalah proses. Kemampuan itu tidak datang seketika kita membawa pulang bayi dari rumah sakit. Tidak juga menjadi sempurna ketika ketika kita berhasil membawa mereka ke gerbang kesuksesan. Sebagaimana manusia berkembang, demikian juga proses pengasuhan kita berkembang. Dari tidak ada menjadi ada. Dari baik menjadi lebih baik.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui untuk memiliki pola asuh yang lebih baik.

Pola Asuh Bukan Berdasarkan ‘Common Sense’

Bingung seringkali diakibatkan oleh ketidaktahuan. Dengan belajar dan mencari informasi tentu akan menambah pengetahuan pola asuh kita. Generasi kita sekarang berbeda dengan generasi orang tua kita dulu. Kalau orang tua kita, kalangan generasi baby boomers, belum semaju sekarang dalam hal ekonomi maupun pendidikan. Mengasuh anak hanya berdasarkan common sense. Tentu saja banyak yang berhasil. Anak-anak mereka sukses setelah dewasa. Tapi tidak sedikit juga yang melukai dan mengecewakan.

Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah menyadari kekurangan-kekurangan pola asuh yang kita terima sebelumnya. Apa saja sakit hati atau luka yang berusaha kita pendam. Mungkin orangtua kita kurang dalam menunjukkan kasih sayang. Atau mereka terlalu keras jika menerapkan disiplin. Ada juga orang tua yang terlalu protektif dan tidak memberikan ruang bagi anak-anaknya berkarya. Sementara orang tua yang lain memiliki terlalu banyak aturan sehingga anak-anak mereka merasa terkekang.

Dengan menyadari kekurangan orang tua kita ini kita bisa mengevaluasi pola asuh kita. Apakah pola asuh kita sebagai kompensasi dari orang tua kita? Jika orang tua kita terlalu mengekang kita cenderung menjadi orang tua yang memberikan kebebasan. Atau bisa jadi pola asuh kita adalah cerita lama yang diulang kembali. Jika orang tua kita terlalu keras, kita akan bersikap keras kepada anak-anak, karena hanya itulah pola asuh yang kita tahu.

Berangkat dari kesadaran ini kita menuju kepada pola asuh yang lebih baik. Tanpa menyadari dan mengobati luka masa lalu, anak-anak kita akan menjadi satu generasi ‘korban’ lainnya. Keputusan ada di tangan kita sebagai orang tua melanjutkan pola lama yang salah atau memulai dengan sesuatu yang sama sekali baru.

Pola Asuh Berdasarkan Perkembangan Anak

Bagaimana membedakan anak kita yang berbeda usianya. Apakah sikap kita kepada anak kita yang berusia 2 tahun sama dengan sikap kita kepada anak yang berusia 7? Tentu tidak. Dalam milestones perkembangan anak 2 dan 7 berbeda. Kemapuan mental dan sosial mereka juga beda. Oleh karena itu, kita juga harus memperlakukan mereka dengan beda. Kepada anak 2 tahun. Kita hanya membuat peraturan sederhana “tidak boleh” dan “boleh”. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa kita melarang mereka bermain pisau dapur ibu. Tapi untuk anak yang lebih besar kita harus memberikan alasan yang masuk akal ketika kita membuat aturan. Misalnya, mengapa kita tidak mengijinkan mereka untuk menonton sesuka hati, padahal teman-temannya yang lain diijinkan orang tua mereka.

Mana yang normal dan tidak normal bagi anak kita tergantung pada tahap perkembangan mereka. Untuk itulah kita perlu tahu supaya tidak bingung bersikap. Kita tentu akan lebih santai kalau tahu bahwa anak usia 2 yang disebut terrible two cenderung melawan apapun yang kita katakan. Ini bukan kenakalan atau pemberontakan. Ini adalah kewajaran. Yang perlu kita pelajari adalah cara yang pandai untuk menghadapi mereka.

Demikian juga dengan anak remaja kita yang bertingkah laku tidak terkontrol. Teriakan mereka “Ma, Pa, saya bukan anak kecil lagi!” menyakitkan. Bagi kita itu adalah penolakan bentuk kasih sayang kita untuk mereka. Sementara itu bagi mereka itu adalah teriakan frustasi karena merasa tidak di beri kepercayaan. Bagi sebagian remaja yang tidak mampu meneriakkan kata hati memberontak lewat perbuatan. Bolos sekolah, tawuran, minggat, free seks, rokok, alkohol dan narkoba, adalah bentuk lain dari pemberontakan mereka.

Tidak ada orang tua yang berharap akan melewati masa-masa sulit ini ketika sedang merawat bayi lucu dan menggemaskan mereka. Sebagian orang tua merasa sedang bermimpi buruk. Mereka berusaha mencari jawabannya, apa yang salah dari pola asuh mereka?

Tidak ada jawaban yang memuaskan semua pihak. Tapi apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah memahami tahapan perkembangan anak-anak kita. Ini akan memudahkan kita mengantisipasi, bertindak dan mengambil keputusan.

Pola Asuh Berdasarkan Interpretasi Positif

Sebagai orang tua kita juga menghadapi anak kita berdasarkaan interpretasi tentang tingkah laku. Misalnya, ketika anak kita yang berusia 3 tahun punya temper tantrum di meja makan. Orang tua serta merta berpikir, apakah anaknya merengek karena ingin dessert atau ia sedang merengek karena sakit perut? Kemudian kita juga berpikir, apakah wajar untuk anak 3 tahun punya tantrum seperti itu di meja makan?

Orang tua yang percaya bahwa anak mereka memang sengaja bertingkah laku salah, akan berpikir untuk menghukum mereka. Semakin sering kita punya persepsi bahwa anak kita memang sengaja untuk berprilaku buruk, semakin sering kita menghukum mereka. Hasilnya anak akan menjadi kasar dan agresif.

Contohnya di kelas waktu saya menyuruh anak kelas 2 SD mendekorasi lembaran kerja mereka dengan tema valentine, ada seorang anak yang protes dengan keras. Jika persepsi saya anak ini tidak sopan dan tidak patuh tentu saya akan memberikannya disiplin yang sepadan. Tapi sebelum memberi label negatif, saya bertanya “Apa yang tidak kamu sukai dari valentine?”, “Apakah kamu sedang kesal hari ini?” Saya percaya bahwa ada sesuatu terjadi yang membuatnya tidak suka dengan valentine bukan karena ia tidak patuh atau tidak sopan.

Saya akhirnya tahu bahwa anak tersebut sedang mengalami masa sulit dalam keluarganya. Kedua orang tuanya sudah berpisah. Ada banyak masalah emosi yang muncul dalam keluarga ini yang tentu sangat berat ditanggung anak berusia 8 tahun. Ia tidak mengerti mengapa orang harus saling mengungkapkan kasih. Memikirkan hal tersebut tentu membuat ia merasa sangat tidak nyaman. Dan karena anak seusia dia belum pandai menyembunyikan atau menyamarkan emosi, ia mengekspresikannya.

Belajar berpikir netral kalau tidak positif membantu kita dalam menghadapi anak-anak. Saya tidak percaya ada anak yang nakal. Persepsi kita sebagai orang tua atau gurulah yang membuat mereka nakal. Demikian juga tidak ada anak yang malas, tidak punya motivasi atau manipulatif. Semuanya adalah label yang diberikan oleh orang dewasa dalam kebingungan dan keputusasaan menghadapi anak-anak mereka.

Nancy Dinar on June 22nd, 2011

Dulu tubuh gemuk berarti makmur. Maka tidak heran jika orang tua menjejali anaknya dengan makanan sebanyak-banyaknya dengan harapan anaknya sehat dan gemuk. Waktu itu orang takut kurus karena bisa dikira kurang makan atau tidak sanggup membeli makanan. Ya, itu dulu. Saat sebagian besar negara di bumi ini baru keluar dari krisis perang dunia.

Sekarang jaman telah berubah. Di era modern ini, gemuk bukan lagi lambang kemakmuran. Semakin banyak orang yang sadar bahwa tubuh gemuk adalah sarang berbagai-bagai penyakit. Bukan hanya itu saja, kemampuan berpikir, produktifitas, bahkan harapan hidup menurun dengan bertambahnya kiloan seseorang.

Sementara itu, semakin makmur suatu masyarakat maka semakin tinggi tingkat pendidikannya. Dan tingkat pendidikan menjadi tolak ukur kesadaran masyakat untuk polah hidup sehat. Dengan pengetahuan yang memadai maka masyarakat lebih bijaksana memilih makanan, minuman, berolahraga dan mejaga kesehatan. Itu sebabnya masuk akal jika orang miskin lebih mudah gemuk sedangkan orang kaya lebih mudah langsing. Beberapa alasannya adalah:

1. Makanan Sehat

Ketika pendapatan meningkat maka fokus utama masayarakat bukan lagi pada penyediaan pangan, tapi lebih pada upaya memilih makanan yang sehat. Hari gini, makanan sehat tidak murah. Makanan organik, bebas pengawet dan hormon, hanya bisa dijangkau oleh orang kaya. Sedangakan orang dengan pendapatan pas-pasan harus puas dengan trans fat, kolesterol, bahan pengawet dan pestisida. *Kasian deh*

2. Olahraga Teratur

Coba saja ke gym, club atau fitness center terbaik, tentu tidak ada orang miskin di sana. Terang saja, jika penghasilan mereka tidak setaraf manajer atau direktur maka klub olahraga bukan tempat mereka menjaga stamina dan membakar lemak. Sebenarnya tersedia juga olaraga murah meriah seperti jogging dan lari pagi, tapi mengingat tingginya tingkat polusi dan keamanan yang tidak terjamin ini juga bukan pilihan yang baik. Itu sebabnya orang miskin lebih banyak menghabiskan waktu luang di depan TV dan santai di rumah saja. Dan jika itu terjadi, jajanan murah yang sarat lemak dan gula menjadi teman setia. Sehingga kita kembali lagi ke masalah yang pertama. *Sigh!*

3. Aktivitas Liburan

Kalau orang kaya mengisi liburan dengan tour ke luar negeri, piknik ke pantai, mengunjungi tempat wisata, orang miskin hanya punya pilihan ngitar-ngitar rumah atau menonton sinetron Korea sampai mabok. Kalau bosan, jalan-jalan ke mall juga bisa jadi hiburan sambil window shopping barang-barang yang tidak terjangkau kocek. Jika bersama anak-anak, liburan bisa berakhir di Mc Donald berharap Happy Mealnya dapat membuat anak-anaknya  happy. Dan sekali lagi kita kembali ke masalah No. 1. *Sigh, sigh*

4. Jaminan Kesehatan

Boro-boro medical cek up, bahkan sakit pun masayarakat miskin enggan ke dokter. Biaya kesehatan yang mahal, asuransi kesehatan yang belum membumi mejadikan jaminan kesehatan adalah pelayanan yang mewah. Karena tidak wasapada dengan gangguan kesehatan maka tidak ada rem yang dapat menghentikan pola hidup yang tidak sehat. Tidak heran jika serangan jantung, stroke, kanker, dan penyakit kritis lainnya masih sangat tinggi peminatnya. Sama halnya dengan pengendara mobil tanpa rem menghentikan kendaraanya dengan menghantam pohon, begitulah akhir dari para pengendara hidup yang pas-pasan. Jika dicek kembali sebagian besar mereka yang menderita penyakit kritis datang dari kalangan menengah ke bawah. *Oh, nasib!*

5. Perawatan Kecantikan

Apa saja sekarang bisa dilakukan dengan duit. Kalau kelebihan lemak cenderung sebagai faktor keturunan dan tidak bisa dihindari, orang yang banyak duitnya bisa melakukan sedot lemak atau liposuction. Eh, bahkan ada yang lebih ekstrim dengan mengambil resiko operasi bypass. Ini tentu saja tidak terjangkau oleh orang miskin meskipun seluruh gajinya ditabung selama setahun. *Wueleh!*

Dengan adanya fakta-fakta di atas Anda punya dua pilihan, pertama, jangan jadi orang miskin. Kedua, berusahalah untuk jadi orang kaya!

Sebenarnya ada sih pilihan ketiga, yaitu jadilah orang bijaksana. Pandai-pandailah dengan hidup ini. Carilah makanan sehat yang murah meriah. Banyak melakukan aktivitas dan jagalah kesehatan sebaik-baiknya. Mulailah pola hidup sehat semenjak kanak-kanak. Semakin dini orang tua mengajarkan anak-anaknya maka semakin mudah mereka menyesuaikan diri pada waktu mereka dewasa.

Nancy Dinar on June 12th, 2011

Apakah salah kalau  manusia merasa cemburu? Kata orang cemburu akan mendorong kita untuk lebih maju dengan semangat kompetisi. Selain itu cemburu juga dapat mempertajam konsep diri seseorang. Dalam suatu hubungan, cemburu sering diartikan sebagai takut kehilangan yang kemudian ditafsirkan sebagai cinta.

Tapi dimana batasannya? Kapan cemburu menjadi tidak sehat dan berbahaya?

Perasaan cemburu yang semakin kuat dan menguasai akan menjadi iri hati. Iri hati yang berkepanjangan akan menjadi dengki. Dengki inilah yang akan menjadi pintu gerbang masalah dalam kehidupan seseorang. Lewat pintu gerbang ini perasaan-perasaan negatif dengan bebasnya masuk yang pada akhirnya menghancurkan kehidupan seseorang.

Drama kehidupan tentang iri hati, dengki, kebencian, kejahatan dan kehancuran dapat kita pelajari dalam kehidupan seorang yang tampan dan sukses bernama Saul. Sebagai pemegang kepemimpinan tertinggi di Israel, boleh dikata Saul jatuh terjerembab karena membiarkan perasaan cemburu ini berkembang biak dalam hatinya.

Ciri-ciri kecemburuan Saul menurut 1 Samuel 18:8 adalah :( 1) Marah karena ada orang yang lebih darinya;(2) Merasa direndahkan  orang; (3) Takut kebilangan jabatan atau kedudukan; (4) Menyimpan dengki di hati.

Jika perasaan-perasaan ini muncul dalam hati kita, ini adalah alarm tanda berbahaya. Saatnya kita harus mengambil langkah untuk berbalik dan tinggalkan perasaan cemburu tersebut. Karena jika diteruskan perasaan ini akan mengakibatkan masalah-masalah emosi seperti di bawah ini:

1. Roh Keresahan (18:10). Seseorang yang menjadi resah dan terganggu karena perasaan cemburu yang membakar barangkali berasal dari roh keresahan  (Spirit of Distress) ini. Saul yang dengki kepada Daud suatu hari kerasukan roh. Selanjutnya,  roh ini yang mengakibatkan dia menjadi susah tidur, gelisah, kehilangan gairah, gampang marah serta berpikiran negatif.

2.  Marah yang Tidak Terkontrol (18:11). Jika berlanjut, dan perasaan negatif semakin memuncak maka kemarahan akan menjadi lebih sulit dikontrol. Kemarahannya meledak-ledak dan cendereng untuk melukai atau menghacurkan. Karena tidak bisa mengendalikan dirinya maka Saul melempar Daud -yang sebenarnya sedang menghiburnya- dengan tombak.

3. Ketakutan yang Tidak Wajar (18:12). Setelah kemarahan yang tidak terkontrol maka timbulah perasaan takut yang mencekam. Kali ini Saul takut kepada Daud bukan karena Ia lebih gagah dan kuat, tapi dalam hatinya Ia tahu bahwa Tuhan sudah meninggalkannya. Kehilangan hubungan dengan Tuhan menyebabkan ketakutan. Ia merasa kehilangan arah, tujuan hidup dan kepercayaan diri.

4. Kejahatan yang Berencana (18:13). Karena perasaan negatif semakin menumpuk, kebencian yang semakin memuncak, sedangkan hubungan dengan Tuhan yang  semakin jauh maka seseorang akan mampu merancangkan kejahatan dan mewujudkannya. Inilah yang dilakukan Saul, ketika ia mengatur skenario untuk membunuh Daud.  Kejahatan akhirnya menjadi obsesi baginya.

Selebihnya kehidupan Saul, kepahlawanan dan kejatuhannya semua orang pun tahu. (Baca 1 Samuel)

Melihat kerugian yang bisa diakibatkan oleh perasaan cemburu, seharusnya kita menghindarinya. Jangan memberikan tempat kepada rasa cemburu untuk bertumbuh dalam hati kita sehingga membuahkan perasaan negatif lainnya. Paulus memberikan nasihat yang bijaksana untuk menjaga pikiran kita:

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).

Rumah tangga Anda sedang di ambang kehancuran. Sekali Anda lengah dan jatuh ke dalam dosa perselingkuhan seakan Anda telah divonis penjara seumur hidup. Meskipun Anda dengan tulus ingin kembali dan berubah, namun Istri Anda tidak. Hatinya terlalu luka karena merasa dikhianati.

Dalam sehari seluruh kenangan manis Anda berdua dimasa lalu terhapuskan. Demikian juga dengan impian yang Anda berdua bangun bertahun-tahun, hancur berantakan. Belum lagi bicara soal masa depan anak-anak.  Semuanya seakan menjadi gelap dikarenakan kekhilafan Anda sekejap.

Bagaimana memenangkan kembali Istri Anda yang terlanjur sakit? Apakah mungkin untuk mendapatkan kembali kasih dan kepercayaannya seperti dahulu kala? Apakah masih ada harapan bagi pernikahan Anda?

Ternyata memang wanita tidak mudah menerima kata “MAAF”. Kata-kata itu terdengar kosong dan tanpa arti jika tidak disertai dengan beberapa tindakan penting lainnya. Jika istri yang Anda sakiti belum mau mengampuni jangan dulu cepat-cepat menghakiminya apalagi menyerah. Di bawah ini ada beberapa cara yang harus ditempuh seorang suami dalam rangka memenangkan hati istrinya kembali.

1. Katakan MAAF dengan sepenuh hati. Tunjukkan bahwa Anda benar-benar menyesali apa yang sudah Anda perbuat. Sadari bahwa pria dan wanita berbeda dalam mengekspresikan perasaan. Kata maaf yang ringan dan tidak disertai ekpresi yang kuat tidak akan diterjemahkan sebagai penyesalan oleh wanita.

2. Jelaskan mengapa Anda menyesali perbuatan Anda dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Meskipun Anda berdua tahu bahwa perbuatan itu salah tapi ia perlu tahu mengapa Anda menyesal. Menekankan mengapa Anda menyesal akan membuat istri mengerti perasaan Anda.

3. Ungkapkan dengan kata-kata Anda sendiri apa yang mungkin dirasakan oleh Istri Anda.  Katakan bahwa Anda juga akan mempunyai perasaan yang sama jika diperlakukan seperti itu.  Mendefisniskan kembali perasaannya dari perpektif Anda membuatnya merasa dimengerti.

4.  Berdoalah bersama-sama dan menyerahkan komitmen Anda kepada Tuhan. Biarkan Istri Anda merasa aman dengan janji Anda yang dibuat dihadapan Tuhan. Istri Anda akan merasa ada ‘Higher Power’ yang akan menjadi perantara jika Anda mengulangi perbuatan yang sama dimasa depan.

5. Tunjukkan sikap bahwa Anda benar-benar berubah. Bekerjalah lebih keras lagi untuk menyenangkan hatinya. Singkirkan semua kenangan yang akan mengmbalikan ingatannya pada kejadian itu. Jika dulu Anda tidak romantis dan kurang menunjukkan perasaan, kali ini cobalah untuk lebih perhatian. Berikan sanjungan dan pujian lebih sering lagi.

6. Kapanpun istri Anda mengingat kejadian itu dan merasa sedih, jangan bosan atau putus asa untuk mengatakan “MAAF” sekali lagi. Jangan marah jika Ia seakan terus mengingatkan Anda pada kejadian itu. Tujuan Anda bukan untuk mengubah ingatannya, tetapi mengubah perasaannya terhadap kejadian itu. Berikan waktu untuk peyembuhan dan pemulihan. 

7. Kalau perlu, ulangi kembali proses ini dari No. 1!!!

Nancy Dinar on May 31st, 2011

Kalau soal kepandaian, Daniel tidak diragukan. Ia adalah orang pilihan Raja untuk dilatih menjadi penasihat kerajaan. Tapi apa yang membuat Daniel berbeda dari teman-teman sejawatnya bukan karena kemampuan otaknya tapi karena karakternya. Daniel terkenal berani dan tidak kompromi. Ia mau mengambil resiko dan tampil beda. Ia bukan seseorang yang senang ikut-ikutan atau mudah berubah pikiran.

Dari kehidupan Daniel kita belajar untuk memiliki karakter yang menyenangkan hati Tuhan dan dihormati manusia. Pilihan-pilihan Daniel, meskipun mengandung resiko telah memberinya status yang tinggi di Babylon. Selain itu, apa yang dilakukan Daniel selama hidupnya teracatat sebagai bagian dari Firman Tuhan.

Kita akan lihat 5 sikap  Daniel yang radikal yang pantas kita contoh:

1. Berani dengan Prinsip yang Beda (Daniel 1)

“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya itdak usah menajiskan dirinya” (Dan 1:8)

Daniel memiliki keteguhan hati yang tidak mudah digoyahkan. Tubuhnya bisa dijadikan tawanan tapi tidak dengan akal budi dan kepercayaannya. Ia setia dengan apa yang dipercayainya berani untuk mengambil resiko apapun akibatnya. Ia berani untuk menolak makanan Raja yang ditawarkan kepada mereka. Ia tidak ingin menajiskan dirinya dengan apa yang ia makan.

Kita dengan mudah menemukan pilihan-pilihan hidup. Ada yang kelihatan normal, dalam arti mayoritas orang melakukannya. Tapi standar kita bukan suara terbanyak. Standar kita adalah Firman Tuhan. Apa yang tidak sejalan dengan Firman Tuhan kita harus memiliki ketetapan hati untuk menolaknya.

Hal ini akan menjadi acuan kita menghadapi isu-isu etika saat ini misalnya, isu homoseksualitas, perceraian dan pernikahan kembali, pornografi, pembajakan, pencurian ide, korupsi dan nepotisme, dll. Pada saat batasan menjadi kurang jelas karena banyak orang menyetujuinya, kita harus kembali kepada Firman Tuhan dan berketetapan untuk melakukannya, meskipun dengan demikian kita harus tampil beda.

2. Berani Mencoba hal yang Mustahil (Daniel 2)

“Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepadanya.” (Dan 2:16)

Sebenarnya Daniel termasuk dalam golongan yang harus dibinasakan. Nasibnya sama dengan para orang Kasdim dan orang bijaksana di kerajaan Babylon. Mereka gagal untuk mengungkapkan apa arti mimpi Raja Nebukadnezar. Tentu saja ini bisa dimengerti, karena raja telah memutuskan untuk tidak memberitahukan apa isi  mimpi yang membuatnya gelisah semalam.  Para Kasdim tidak berlebih-lebihan jika berkata, “Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yangdiminta tuanku raja!” (2:10)

Tapi Daniel tidak menyerah. Dengan cerdik dan bijaksana Ia menghadap Ariokh pembesar raja dan meminta waktu untuk mengartikan mimpi raja. Baginya, tidak ada salahnya untuk berusaha. Tanpa berusaha ia sudah pasti akan dilenyapkan. Daripada menyerah pada kemustahilan, Daniel memilih untuk mempertaruhkan apa yang dimilikinya: Iman!

Tidak ada salahnya kita untuk berusaha seperti Daniel. Pada saat keadaan seperti tidak berpengharapan dan tidak masuk akal, masih ada pintu yang perlu kita kita coba untuk dibuka. Pintu itu adalah pintu kasih sayang Allah semesta langit (2:18). Dan kunci untuk membuka pintu itu adalah  doa dan keberanian.

3. Berani Menolak yang Bukan Haknya (Daniel 5)

“Kemudian Daniel menjawab raja, “Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku.” (Dan 5:17)

Setelah berhasil mengartikan mimpi raja, nama Daniel menjadi masyur. Ia dikenal sebagai seseorang yang dipenuhi oleh roh para dewa yang kudus! Kemampuannya sudah terbukti  bukan hanya bisa menerangkan mimpi , ia juga mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit. Tapi, apakah ia juga memiliki kemampuan untuk mengartikan tulisan misterius di dinding?

Karena sudah berkali-kali diperhadapkan dengan kasus yang sulit, Daniel jadi tahu diri. Ia mengerti bahwa talenta yang dimilikinya hanya berasal dari Tuhan. Untuk itu segala kemuliaan harus dikembalikan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Daniel tidak dengan iming-iming hadiah dari Raja Belsyazar.

Apapun talenta yang kita miliki ada prinsip-prinsip yang harus kita ketahui. Pertama, talenta itu berasal dari Tuhan dan dipakai hanya untuk kemuliaan namaNya. Ialah yang berhak menerima pujian. Kedua, talenta kita akan ditambahkan jika kita memakainya untuk tujuan mulia ini. Sama seperti tugas Daniel yang semakin hari semakin sulit di Babylon tapi ia tidak kekurangan hikmat dari Tuhan yang disembahnya.

4. Berani Mati untuk Imannya (Daniel 6)

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuatnya, pergilah ia ke rumahnya. Di kamar atasnya ada tingkap-tingkap yan gterbuka ke arah Yerusalem; tiga hari ia berlutu berdoa dan memuji serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Dan 6:11)

Ada orang-orang yang bersekongkol untuk menjatuhkan Daniel. Mereka menemukan cela yang dapat mewujudkan rencana jahat mereka. Mereka tahu bahwa Daniel dengan setia melakukan rutinitas ibadahnya yaitu berdoa dan memuji Tuhan tiga kali sehari. Orang-orang yang bersekongkol melawannya berhasil membujuk raja untuk mengeluarkan larangan bagi siapa saja  yang berdoa kepada siapapun selain raja. Bagi siapa yang melanggar hukumannya akan dilempar ke kandang singa.

Mendengar hukuman yang mengerikan seperti ini siapa saja pasti takut, kecuali Daniel. Ancaman ini tidak mengubah kebiasaannya berdoa dan memuji Tuhan. Bahkan  ia melakukannya di atas kamar yang terbuka sehingga mudah bagi orang lain untuk melihatnya. Ia tidak berusaha menyembunyikan ibadahnya.

Seringkali kita berhadapan dengan tantangan bagi iman kita. Banyak orang yang memilih kompromi, kamuflase, bersembunyi, berpura-pura. Mereka malu atau takut jika orang lain mengetahui iman atau kepercayaan mereka. Padahal Allah sanggup membela perkara kita. Ia dapat melepaskan segala jerat yang dipasang bagi orang percaya.

5. Berani Bayar Harga untuk Bangsanya  (Daniel 9)

“Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3)

Daniel menghadapi pergumulan rohani yang sangat berat dalam hatinya. Kedekatannya pada Tuhan membuat hatinya gundah melihat bagaimana bagsanya terlalu jauh dari Nya. Beban moral untuk bangsanya ada di bahu Daniel saat itu. Meskipun Daniel hidup benar di hadapan Tuhan tapi tidak dengan bangsanya.

Ia pun berdoa, bermohon sambil berpuasa sambil mengenakan kain kabung serta abu. Daniel berkabung untuk bangsanya. Ia berdoa dan berpuasa memohon ampun untuk dosa nenek moyangnya. Ia menghadap Tuhan dan mengakui pelanggaran-pelanggaran kaum keluarganya. 

Pergumulan Daniel adalah juga pergumulan kita sebagai orang percaya. Kita harus berdoa dan berkabung untuk bangsa kita yang jauh dari Tuhan. Kita haru memohon ampun akan dosa yang telah dilakukan oleh nenek moyang dan kaum kkeluarga kita. Demikian juga kita harus mengakui perlanggaran-pelanggaran mereka. Sama seperti Daniel yang mau mengambil bagian dalam pemulihan bangsanya, Tuhan juga mencari orang-orang yang mau membayar harga seperti Daniel saat ini.

Nancy Dinar on May 11th, 2011

Alkitab memang menyebutkan tentang janji-janji berkat bagi orang percaya. Sebagai wujud kasih Tuhan kepada anak-anak-Nya, bukan hanya keselamatan tetapi juga berkat materi, kesehatan dan kesuksesan diberikan-Nya. Namun, berbicara hanya mengenai berkat-berkat ini dapat membuat kita menjadi orang Kristen yang tidak seimbang. Berkat hanya merupakan salah satu sisi dari sebuah mata koin. Di sisi yang lain Alkitab juga berbicara mengenai penderitaan sebagai  konsekuensi dosa Adam yang harus dipikul seluruh umat manusia.

Satu pribadi yang terkenal mengalami dua sisi mata koin ini secara ekstrim adalah Ayub. Selain diberkati secara luar biasa, Ayub juga mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia adalah seorang yang saleh waktu Tuhan memberkatinya, ia tabah waktu dalam pencobaan dan Ia rendah hati waktu Tuhan memulihkannya.

Kita harus belajar banyak dari kehidupan Ayub, mengingat kitapun tidak luput dari cobaan dan penderitaan. Ada lima perkataan Ayub yang sangat terkenal selama hidupnya yang dicatat dalam Alkitab yang dapat menjadi pelajaran bagi kita juga.

1. Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati (1:5b).

Dengan seluruh kekuatan dan kemampuannya, Ayub ingin menyenangkan Tuhan dan hidup benar dihadapan-Nya. Ia bukan hanya menjauhi dosa tapi mengantisipasi dosa. Dalam hatinya ia percaya bahwa berkat yang ia terima saat itu berhubungan langsung dengan kesalehannya. Dengan kata lain ia juga percaya bahwa dosa dapat memisahkannya dari berkat Tuhan ini.

Ada orang-orang yang ‘sangat rohani’ yang menganggap karena kesalehan dan ibadah mereka maka Tuhan menjadikan mereka kaya dan sukses. Ayub hampir jatuh pada ‘kesombongan rohani’  ini kalau saja ia tidak belajar mengenal Tuhan lewat masa-masa ujian yang sangat berat.

Sementara itu ada juga orang-orang yang ‘menghakimi’  baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka menganggap penderitaan adalah bentuk hukuman Tuhan atas dosa dan pelanggaran manusia.   Ketiga sahabat Ayub Elifas, Zofar dan Bildad jatuh pada kategori ini sehingga membangkitkan murka Tuhan kepada mereka. Tuhan tidak mengijinkan diri-Nya dinilai oleh manusia karena Dia adalah  Pencipta sedangkan manusia adalah ciptaan-Nya.

2. Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya (1:21a).

Biasanya pada saat mendengar tragedi yang luar biasa, seseorang akan mengalami goncangan yang hebat. Mendengar kabar bahwa anak-anaknya pun tewas dalam musibah ini, Ayub menyadari bahwa hidupnya adalah anugerah semata-mata. Ia tidak bisa melandaskan iman terhadap hal-hal yang duniawi dan sementara. Apapun yang ia capai dan kumpulkan selama bertahun-tahun dapat hilang dalam sekejap. Goncangan ini yang menguji fondasi iman yang dibangun Ayub selama itu. Goncangan ini seperti badai yang menerpa suatu pohon yang akan membuktikan apakah akarnya cukup kuat untuk bertahan.

Setelah itu ada suatu loncatan iman yang luar biasa dalan diri Ayub. Ia tidak lagi menganggap Tuhan sebagai objek tapi sebaliknya Tuhan adalah subjek. Tuhan bukanlah objek yang bisa digerakkan dengan perbuatan atau pelayanannya. Ada pengertian yang tersingkap bahwa Tuhan berhak melakukan apapun yang dikehedakinya dan dalam segala hal Tuhan selalu benar.

3. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan (1:21b).

Adalah mudah memuji Tuhan waktu kehidupan kita enak, sehat dan diberkati. Tapi sulit untuk tetap mempertahankan sikap itu bila tragedi kehidupan melanda. Hanya orang  yang mengerti sumber  kehidupannyalah yang bisa memiliki penyerahan yang sesungguhnya. Menyerahkan hak kita kepada Tuhan berarti mengakui kedaulatan-Nya.

Banyak hal yang tidak tersedia jawabannya bagi kita. Entah Tuhan menyimpan misteri ini untuk disingkapkan di masa yang akan datang atau memang sama sekali Ia tidak menyediakan jawabannya. Memaksa otak kita yang terbatas untuk mengerti seluruh rencana Tuhan  sering membuat iman kita kandas. Sebaliknya dengan memuji Tuhan apapun yang kita hadapi akan menguatkan iman kita.

4. Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang baik? (2:10b).

Kita sering bertanya “Mengapa saya?” waktu penderitaan datang. Kita mencoba mempertanyakan Tuhan mengapa hal itu menimpa kita bukan orang lain. Padahal banyak orang yang hidupnya lebih buruk dari kita meskipun mereka lebih saleh hidupnya.  Hanya saja sangat sedikit orang yang mau sebaliknya bertanya “Mengapa saya?” waktu mereka diberkati dan diberi kesehatan oleh Tuhan.

Waktu musibah pertama menimpa Ayub dan semua harta bendanya habis, Ayub mencoba untuk mengerti. Ketika seluruh anaknya pun tertimpa bencana, Ayub mencoba untuk bertahan. Pada saat, ia sendiri ditimpa penyakit kulit yang menjijikan, Ia berusaha untuk tidak kehilangan pengharapan. Tapi, pada saat istrinya menyuruhnya mengutuki Tuhan, Ayub angkat bicara. Tragedi yang datang bertubi-tubi bukan hanya membuat imannya semakin kuat tapi juga menimbulkan rasa hormat yang luar biasa akan keberadaan Tuhan.

5. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (42:5).

Waktu hidup Ayub diberkati  ia menyembah Tuhan tapi peyembahannya didasarkan pada pengenalan akan Tuhan yang pernah didengarnya. Ia tentu telah mendengar perbuatan Tuhan dari orang tua atau leluhurnya. Ia juga mungkin telah mendengar cerita mengenai kebesaran Tuhan lewat teman-temannya. Ia mencoba untuk hidup benar dan menyembah Tuhan yang hanya didengarnya ini.

Namun penderitaan telah membawanya pada dimensi pengenalan Tuhan yang baru. Waktu melewati masa kensengsaraan yang hebat akhirnya mata Ayub sanggup melihat Tuhan. Ternyata penderitaan membuatnya lebih dekat kepada Tuhan. Berkat membuatnya menyembah Tuhan dari kejauhan sedangkan penderitaan membuatnya mengenal Tuhan Dia secara pribadi.

Nancy Dinar on May 3rd, 2011

Saya sering nyasar di jalan-jalan Jakarta. Kejadian-kejadian itu sangat menyita waktu, menguras tenaga dan membuat frustasi. Di tengah jalanan yang macet, tanda lalu lintas yang tidak jelas dan jalur yang semerawut siapapun dapat kehilangan keramahan bahkan kewarasannya.

Setelah terjadi berkali-kali, saya menemukan cara yang tepat untuk mengatasi frustasi ini : antisipasi. Mengantiasipasi  macet, pelajari peta tempat yang dituju dengan baik dan berangkat lebih cepat dari prediksi perjalanan. Saya melakukan ini terutama jika mendapat undangan khotbah di tempat-tempat yang baru bagi saya. Menurut saya, sangat tidak enak mendengar khotbah dari seseorang yang mentalnya telah terkuras karena nyasar di jalanan. Lagipula, bukankan tugas seorang pengkhotbah adalah menunjukkan jalan yang benar?

Oleh karena itu, ketika suatu hari ada gereja mengundang saya berkhotbah, saya mempelajari dulu cara terbaik dan termudah ke sana jauh sebelum hari-H. Setelah bertanya sana sini, mengerti dan yakin maka saya punya rasa percaya diri untuk berangkat. Itu pun jauh lebih awal dari perkiraan waktu yang seharusnya di tempuh.

Puji Tuhan kalau akhirnya kami sampai jauh sebelum jam ibadah dimulai. Kali ini tanpa banyak nyasar. Senang rasanya karena perjalanan bisa ditempuh dengan lancar. Ternyata tidak percuma bertanya ke banyak orang dan mempelajari peta dengan sungguh-sungguh.

Membandingkan dengan keteledoran – keteledoran saya di waktu yang lampau, saya patut mengacungkan jempol untuk diri sendiri. Ehm*#$&*. Tapi perasaan ini tidak berlangsung lama. Segera saya bertemu dengan penyambut tamu yang menyalami saya sambil berkata “Ibu, jadwalnya kan minggu depan!”.

“Ahhhhh…..!” (saya memukul kepala sendiri)

Saat itu saya menyadari bahwa saya lebih fokus untuk menghindari rasa frustasinya nyasar daripada apa yang seharusnya saya lakukan. Memang saya tidak salah jalan tapi menderita kerugian yang lebih besar karena salah sasaran.

Hal ini bisa juga terjadi pada waktu kita berusaha memahami rencana Tuhan. Jika hati kita dipenuhi kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran maka kemungkinan besar untuk salah sasaran. Pengalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu  sering menjadi penyebab mengapa kita menyimpan perasaan-perasaan itu. Kita khawatir rasa sakit yang dulu kita rasakan terjadi lagi dimasa depan. Kita dengan pintarnya mempelajari bagaimana cara untuk menghindarinya. Beberapa orang menyebutnya : defense mechanism, cara yang alami dari jiwa kita untuk menghidari perasaan yang menyakitkan.

Padahal Tuhan itu beda. Ia tidak tinggal dalam format atau cetakan kita. Apa yang Tuhan pikirkan tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Dan tentu saja jika kita mau fokus terhadap apa yang ingin Tuhan lakukan (bukan fokus untuk mengihindari hal-hal yang tidak mengenakkan) kita sedang melindungi diri dari kerugian yang lebih besar.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancangan-Mu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)

Nancy Dinar on April 27th, 2011

Seri “Menemukan Cinta Sejati” (Part 3)

Ketika cinta sudah memudar, konflik berkepanjangan, sakit hati yang tak kunjung padam membuat suami maupun istri seperti kura-kura yang masuk ke dalam cangkangnya. Ini adalah cara alami untuk melindungi diri dari bahaya dari luar. Untuk menghindari sakit hati yang lebih dalam, banyak pasangan yang mencari perlindungan atau pelarian. Kita menyebutnya affair.

Affair yang kita kenal biasanya adalah orang ketiga yang hadir dalan suatu pernikahan. Diperkirakan ada 1 dari 3 pasangan yang pernah selingkuh baik yang hanya melalui chatting, sms atau hubungan lebih serius. Banyak yang mengalami ‘hidup kembali’, ‘kembali muda’, ‘bersemangat’ dan ‘berbunga-bunga’ tidak beda dengan versi masa pacaran mereka dulu. Bahkan tidak sedikit  yang melaporkan bahwa mereka belum pernah merasakan cinta yang begitu dalam sebelumnya. 

Affair adalah bentuk pelarian seseorang dari pasangannya baik secara emosional maupun fisikal. Sebenarnya ada banyak bentuk affair yang dilakukan oleh pasangan yang terikat pernikahan. Pekerjaan, hobby, teman-teman, gadgets, internet, computer game, aktivitas sosial, televisi, pekerjaan rumah dan anak-anak adalah beberapa diantaranya.

Komunikasi yang Rusak

Ketika aktivitas yang normal menjadi tempat pelarian atau cara untuk menghindari pasangannya, maka boleh dikata seseorang telah memiliki affair. Pernikahannya sedang mengalami stagnasi atau bahkan kemerosotan. Komunikasi dalam hubungan mereka bukan lagi komunikasi yang membahagiakan dan membawa pemenuhan melainkan membawa kepedihan.

Cara untuk menguji apa semua itu adalah bagian yang normal atau sudah merupakan affair, seseorang dapat bertanya pada dirinya “Apakah bekerja lembur lebih baik daripada menghadapi omelan istri di rumah?”, “Apakah  menonton TV  atau membaca koran dapat menghidari komunikasi yang membawa luka dengan pasangan?”, “Apakah dengan menyibukkan diri dengan anak-anak, maka rasa sakit hati anda teralihkan?”, “Apakah hobby menjadi lebih penting dari suami atau istri?”

Saya mengenal pasangan suami istri yang telah menikah puluhan tahun. Mereka dikaruniai anak-anak yang telah dewasa dan banyak cucu. Komunikasi mereka tentulah bukan yang didambakan oleh pasangan manapun. Di rumah mereka ada pertengkaran dari pagi hingga malam hari. Dibuka dengan protes suami untuk sarapan yang tidak enak yang akan dibalas oleh kata –kata sengit sang istri dan malam hari ditutup oleh pertengkaran mereka mengenai channel TV yang akan di tonton. Di tengah hari mereka akan bertengkar karena masalah keuangan, anak, cucu, keluarga, tetangga,  pakaian, rumah, agama, hobby, masa lalu, masa sekarang, masa depan, atau apa saja.

Sebaliknya saya pernah punya pengalaman menarik saat masih tinggal di Korea. Pada waktu itu saya berkerja sebagai English Tutor bagi anak-anak Korea. Biasanya setiap 3 kali seminggu saya di antar-jemput oleh 3 orang tua anak yang berbeda. Hal ini saya kerjakan selama bertahun-tahun. Jadi selama itu pula saya mengenal salah satu pasang suami istri yang selalu menjemput saya. Mereka selalu datang berdua. Segera sesudah pintu mobil ditutup dan menyapa saya, mereka akan terlibat dalam suatu percakapan yang sangat akrab seakan-akan mereka baru saja bertemu setelah lama berpisah. Bertahun-tahun, di perjalanan pulang pergi itu saya mendengar mereka berbicara banyak hal, bercanda, berencana dan bertukar informasi seperti tidak pernah kehabisan bahan percakapan.

Komunikasi semacam apa yang menjadi dambaan setiap insan ketika mereka hendak menikah? Apakah yang penuh dengan kepahitan dan kegetiran? Atau yang penuh dengan kasih dan pengertian?

Kita dapati bahwa sulit untuk mendapatkan komunikasi yang kita inginkan, jika tidak dibangun dasarnya terlebih dahulu. Apalagi jika alam bawa sadar kita penuh dengan trauma yang ingin dilupakan. Pernikahan akan membawa kembali semuanya ke permukaan yang membuat kita mengenal dan berhadapan muka dengan muka dengan luka yang lama kita tidak sadari. Tanpa membawa luka-luka batin ini ke permukaan dan menyelesaikannya satu persatu kita tidak dapat membangun sesuatu yang kuat dan utuh di atasnya. Sama halnya tidak seorang pun dapat membangun suatu bangunan tanpa mengetahui karakteristik fondasinya, demikian pernikahan yang harmonis tidak bisa dibangun di dasar yang tidak jelas.

Bagaimana Akhir Sebuah Affair?

Mengadakan affair adalah cara seseorang untuk membangun kembali apa yang tidak berhasil dibangun sebelumnya. Suami akan jatuh cinta pada teman sekerja yang lebih muda dan penurut dibanding dengan istrinya yang cerewet dan suka menuntut. Ia seperti mendapatkan kembali kelakian-lakiannya yang selama ini dilecehkan oleh pasangannnya. Romantika cinta yang ia rasakan, PEA kembali aktif bekerja, membuat ia hanya mengenal yang indah dan manis dengan selingkuhannya, sementara otak normalnya mengenal semua yang negatif tentang istrinya. Yang sebenarnya terjadi adalah alam bawa sadarnya yang sama dengan seekor kuda yang tidak bisa kendalikan sedang mencari jalan pemulihan dari luka masa lalu.

Alam bawa sadar yang tidak dikenali akan memegang kontrol dalam diri seseorang untuk memilih apa yang ia mau. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk seseorang mendapatkan bahwa apa yang sedang mereka hindari itu yang mereka dapatkan. Selingkuhan yang muda dan penurut ternyata adalah seorang yang bekeinginan kuat untuk mengontrol dan memanipulasi. Tanpa disadari orang ini sebenarya telah jatuh cinta dengan orang tidak jauh berbeda dari istrinya.

Demikian juga banyak wanita yang jatuh ke dalam peluk rayu seorang PIL yang dianggapnya penuh perhatian. Jauh berbeda dengan sikap suami yang dingin dan tanpa perasaan. Suaminya yang sering lupa hari ulang tahun atau moment yang dianggapnya penting. Suami yang juga tidak pernah menghargai apapun yang dikerjakannya. Suami yang jarang memuji apalagi mengungkapkan kasih lewat perkataan. Ketika bertemu dengan pria yang bisa memberi apa yang tidak diterimanya dari suami seorang wanita sering lupa diri bahkan bila pria selingkuhannya ternyata telah beristri pula.

Sang wanita tersebut tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam perangkap yang sama ketika ia menikahi suaminya. Pria yang dikiranya penuh perhatian dan menyanjung-nyajungnya, menyimpan rapat hubungan mereka agar tidak diketahui siapapun. Ia tidak siap jika reputasi dan nama baiknya menjadi cemar demi cinta. Ia juga tentu tidak mau mengorbankan istri dan keluarganya. Ia hanya membutuhkan wanita untuk menjadi maianan atau simpanan, tidak lebih dari itu. Ternyata, Ia sama tidak menghargainya bahkan lebih buruk lagi dari suami wanita tersebut.

Affair adalah ilusi yang menjebak korbannya untuk masuk ke dalam konflik yang lebih rumit untuk diselesaikan. Dikatakan ilusi karena hubungan yang terjadi dalam suatu affair hanya indah sebatas impian semata. Ketika terjaga, kenyataan yang lebih pahit harus mereka hadapi.